INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (30/4/2012) ditutup menguat tipis 2 poin (0,021%) ke angka 9.188/9.193 dari posisi akhir pekan lalu 9.190/9.195.
Analis senior Monex Investindo Futures Daru Wibisono mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh faktor eksternal seiring penguatan yang terjadi pada berbagai mata uang utama seperti euro dan poundsterling sepanjang perdagangan. Menurutnya, pasar masih mengantisipasi pelemahan dolar AS pascarilis Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang turun tajam pada kuartal pertama 2012.
PDB AS dirilis turun jadi 2,2% atau lebih rendah dari ekspektasi 2,5% dan angka kuartal sebelumnya 3%. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.182 setelah sempat melemah ke 9.193 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.185,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (30/4/2012).
Menurut Daru, pasar melihat, kondisi ini memberikan alasan bagi The Federal Reserve untuk kembali menggulirkan quantitative easing (QE). "Pasar banyak mempertimbangkan potensi pelonggaran moneter atau stimulus ke dalam sistem ekonomi AS," ujarnya.
Kondisi ini, lanjut dia, pasti memperlemah nilai tukar dolar AS dengan sendirinya. Di sisi lain, rupiah justru mendapat sentimen positif dari suksesnya lelang obligasi Italia.
Hanya saja, menurut Daru, pada akhrinya, dolar AS mengalami technical rebound setelah mengalami tekanan hari ini sehingga cenderung menguat terhadap mayoritas mata uang utama. Termasuk juga, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa).
Penguatan dolar AS itu, kata dia, mendapat dukungan dari pasar yang sudah mulai mengantisipasi data tenaga kerja AS di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) yang diprediksi menguat ke 175 ribu dari angka sebelumnya 120 ribu untuk April 2012. Sementara itu, tingkat pengangguran AS diprediksi masih stabil pada 8,2%.
Alhasil, indeks dolar AS menguat ke 78,72 dari sebelumnya 78,70. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke angka US$1,3238 dari sebelumnya US$1,3254 per euro," imbuh Daru.