INILAH.COM, Jakarta - Sampai pekan kemarin, pasar saham masih gonjang-ganjing. Isu pembatasan BBM dan turunnya peringkat utang Spanyol membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak dalam ruang yang sempit dengan kecenderungan melemah. Sesekali, memang, terjadi rebound kecil-kecilan. Namun penguatan itu hanya berlangsung sehari dua hari. Setelah itu indeks kembali lunglai.
Seperti yang terjadi dalam sepekan kemarin, indeks ditutup di tutup di level 4.163,98 atau melemah 0,001%. Sebenarnya tidak banyak, memang. Tapi, sialnya, banyak pelaku pasar yang percaya bahwa kejatuhan yang terjadi kemarin bukan merupakan episode terakhir. Dengan kata lain, selama sepekan ke depan IHSG berpeluang melemah. Bahkan akan terperosok lebih dalam.
Coba dengar pendapat Purwoko Sartono. Analis Panin Sekuritas ini percaya, pekan depan indeks akan bergerak di rentang 4.120 – 4.190. Beberapa hari ke depan, menurutnya, tak ada sentimen positif yang cukup untuk menggairahkan perdangan saham. Sehingga, “Indeks akan bergerak sempit dan cenderung turun,” katanya.
Pendapat bernada pesimistis juga datang dari Bertrand Reynaldi, Kepala Riset E-Trading Securities. Menurutnya, saat ini para investor tengah mereposisi portfolionya setelah Standard & Poor’s memangkas peringkat obligasi Spanyol menjadi BBB+ atau setingkat di atas di atas junk (sampah). Sementara di dalam negeri para investor dibuat pening oleh ketidakjelasan sikap pemerintah soal rencana untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi.
Nah, salah satu keranjang yang dianggap aman dalam situasi seperti sekarang adalah dolar. Pelarian dana ke mata uang dolar itu pula yang membuat banyak investor menarik duitnya dari bursa. Buntut, sejumlah pasar modal pun masuk zona merah. Indeks Hang Seng dan Nikkei, misalnya, pada penutupan pasar akhir pekan kemarin masing-masing turun sebesar 0,33% dan 0,43%.
Melihat kenyataan pahit tersebut, memang tak banyak yang bisa diharapkan investor dalam waktu dekat. Namun, seperti pepatah, selalu ada berkah di balik musibah. Begitu pun kejatuhan indeks, yang oleh sebagian pelau pasar, dipandang sebagai saat yang tepat untuk membeli. “Setiap penurunan harga selalu diikuti dengan kenaikan,” kata seorang analis dari Kresna Securities.
Ia begitu yakin, pembalikan arah akan segara terjadi. Makanya, menurutnya, saat ini merupakan waktu yang pas bagi investor jangka panjang untuk membeli atau mengoleksi saham. Time to Buy. [tjs]