INILAH.COM, San Francisco - Data tenaga kerja dan consumer akan menjadi fokus pelaku pasar modal setelah kinerja laporan keuangan perusahaan pada pekan depan. Hal itu dikarenakan investor mencoba untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perekonomian.
"Minggu depan akan saling tindih pada satu hal yaitu pekerjaan," ujar Chief Equity Strategist Federated Investors Phil Orlando seperti dikutip dari marketwatch.com, akhir pekan ini.
Berdasarkan polling survei analis dan manajer investasi bahwa mereka mengharapkan dapat data perekonomian yang jelas dibandingkan laporan keuangan. Adapun musim laporan keuangan mulai masuk dalam 100 perusahaan di indeks S&P 500 termasuk Pfizer Inc dan Kraft Inc pada Selasa dan Kamis. Pada kuartal pertama, pertumbuhan laba bersih sebesar 5,9% dari perusahaan yang telah menyampaikan laporan keuangan. Selain itu, dari 268 perusahan dalam S&P 500 yang telah menyampaikan laporan keuangan sekitar 78% telah berubah dalam hasil yang telah menduduki puncak.
Dalam hal pendapatan, sekitar 68% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah melaporkan pendapatan yang lebih tinggi dari estimasi dibandingkan dengan rata-rata 63% selama empat kuartal terakhir. Selain itu, Federated Orlando akan fokus pada tiga rilis penting pada pekan depan antara lain laporan tenaga kerja ADP pada Rabu, klaim pengganguran mingguan pada Kamis, dan laporan nonfarm-payrolls dan angka pengganguran pada Jumat.
Indikator ekonomi lainnya pada minggu depan yaitu Chicago PMI pada Senin, Institute for Supply Management Manufacturing pada April, order pesanan pabrik pada Maret, dan indeks ISM serivce pada Kamis ini.
Sebelumnya, jumlah tenaga kerja bertambah 120 ribu pada Maret, dan jumlah itu mengalami kenaikan terkecil dalam lima bulan. Klaim penggangguran juga tetap berada di level tinggi 380 ribu atau naik dari level 361 ribu pada Februari lalu.
Di luar laporan pekerjaan dan pendapatan perusahaan, Chief Investment Officer Haverford Trust Co Hank Smith menuturkan, pelaku pasar juga akan memperhatikan pertemuan dewan bank sentral Eropa pada Kamis mendatang di Barcelona. Sebelumnya lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat Spanyol menjadi BBB+ dari A pada Kamis ini. Menteri Ekonomi Spanyol Luis de Guindos menuturkan, pihaknya tidak akan mencari bailout. "Pasar akan mencari jaminan bahwa bank sentral Eropa akan menjadi pagar, apa yang tidak diinginkan adalah krisis keuangan," tutur Smith.