INILAH.COM, Jakarta - Masuknya pengusaha ternama, Chairul Tanjung, sebagai salah satu pemegang saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), tidak akan memberi pengaruh signifikan terhadap kinerja perseroan.
"Dampaknya ke market tidak ada. Ke perusahaan juga tidak ada, karena CT (Chairul Tanjung) tidak punya hak suara dalam menentukan kebijakan perusahaan," tutur Komisaris PT MAK Management Service Irwan Ibrahim, kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (28/4/2012).
Ia menjelaskan, saham Garuda yang dibeli CT dari tiga sekuritas ini dan dibanderol dengan harga diskon alias di bawah harga penawaran saham perdana (IPO), baru akan terkena sentimen positif bila perseroan melakukan aksi korporasi baru seperti membuka jalur penerbangan baru baik domestik maupun internasional.
"Dalam jangka pendek menengah ini masih bisa terkena dampak negatif dari naiknya harga minyak dunia. Karena harga avtur bisa naik yang bisa menaikan harga tiket, jadi penumpang bisa berkurang. Belum lagi adanya kasus Nazaruddin," ungkapnya.
Namun, lanjutnya, untuk jangka panjang saham Garuda masih memiliki prospek positif karena fundamental perseroan yang cukup kuat. "Masih buy untuk Garuda, minimal untuk jangka waktu setahun," pungkasnya.
Transaksi pembelian saham GIAA terjadi pada Jumat (27/4/2012) lalu. CT Corp memborong 2,4 miliar saham Garuda Indonesia atau setara dengan 10,8% yang difasilitasi Credit Suisse, senilai Rp1,53 triliun.
Adapun sekuritas yang menjadi penjual saham Garuda adalah Mandiri Sekuritas (CC), Danareksa Sekuritas (OD), dan Bahana Securities (DX).