INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (26/4/2012) menguat 10 poin (0,10%) ke angka 9.185/9.190 dari posisi kemarin 9.195/9.200.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh komentar Gubernur The Fed Ben Bernanke yang secara jelas memberikan isyarat adanya kemungkinan Quantitative Easing (QE) berikutnya. Mekipun, pernyataan Federal Reserve sedikit tidak mendukung pernyataan Bernanke.
Memang, kata Firman, keputusan The Fed semalam adalah mempertahankan suku bunga di level rendah 0-0,25% tapi di sisi lain target pertumbuhan ekonomi justru dinaikkan. "Karena itu, sepanjang perdagagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.180 setelah mencapai level terlemahnya 9.196 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.195,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (26/4/2012).
Firman menjelaskan, The Fed justru menaikkan target pertumbuhan ekonomi jadi 2,4-2,9% untuk 2012 dari target sebelumnya 2,2-2,7%. Pada saat yang sama, ada dua petinggi The Fed yang menginginkan suku bunga naik lebih cepat dari rencana semula hingga akhir 2014.
Artinya, kata dia, pernyatan Bernanke lebih dovish (pro kebijakan moneter longgar) dibandingkan sikap The Fed secara keseluruhan. "Kondisi ini jadi tekanan bagi dolar AS sehingga rupiah menguat," tuturnya.
Pasalnya, Firman menegaskan, Bernanke masih mengisyaratkan kemungkinan Quantitative Easing berikutnya. "Bernanke mengatakan, QE3 is not out from the table," kata Firman menirukan pernyataan Bernanke.
Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke 78,903 dari sebelumnya 79,012. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3244 dari sebelumnya di US$1,3221 per euro," imbuh Firman.