INILAH.COM, Jakarta - Dahlan Iskan boleh punya keinginan, tapi keputusan tetap berada di tangan investor.
Ungkapan tu, tampaknya pas dengan yang terjadi pada nasib saham Garuda Indonesia (GIAA) yang kini dikempit oleh tiga sekuritas milik negara, yakni Mandiri Sekuritas, Bahana, dan Danareksa. Semula, Menteri BUMN menginginkan 2,74 miliar saham itu (10,88%) dijual dengan harga IPORp750. Namun, tawaran itu tidak disambut investor.
Kabar terakhir yang beredar menyebutkan, hanya ada dua pemodal yang aktif melakukan negosiasi dengan Bahana Cs. Mereka adalah Rachmat Gobel dan Chaerul Tanjung. Namun, ya itu tadi, dua pengusaha pribumi itu tak mau membeli dengan harga premium. Sebaliknya,menurut salah satu petinggi di Kementerian BUMN, harga yang disodorkan hanya berkisar Rp620–Rp630 per saham.
Konon pula, tiga perusahaan sekuritas pelat merah tersebut tak menampik tawaran itu. Kendati, di pasar, GIA ditransaksikan di level Rp660–Rp670. “Ya dari pada terus menerus memegang barang busuk, lebih baik cut loss,”kata sang pejabat di Kementerian BUMN.
Lantas siapa pembelinya? Ada yang bilang Chaerul Tanjung lebih pasti ketimbang Rachmat Gobel. Namun, tak tertutup kemungkinan sang pengusaha elektronik yang maju. Soalnya, sudah lama pengusaha muda ini tertarik pada bisnis penerbangan. Apalagi kinerja maskapai pelat merah ini, belakangan terus meningkat.
Setelah meraih laba bersih Rp808,67 miliar (naik 56%) pada tahun lalu, di 2012 ini manajemen menargetkan laba meningkat minimal sebesar 20% target nan optimistis itu dipatok, lantaran maskapai ini begitu getol mengembangkan pangsa pasar korporasi (belum lama ini menandatangani kerjasama dengan 1.641 perusahaan) dan menambah armada besinya.
Yang tak kalah menariknya saham Garuda kini diperdagangngkan dengan harga yang tergolong murah. Menurut perhitungan sejumlah analis, dengan PE 11 kali, harga wajar GIAA berada di kisaran Rp725.
Tertarik?