INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Rabu (25/4) diprediksi melemah. Pasar mengantisipasi penarikan stimulus AS oleh The Federal Reserve.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, potensi pelemahan rupiah hari ini, salah satunya masih dipicu oleh aksi penghindaran risiko (risk aversion) seiring meningkatnya risiko politik di Eorpa. Peningkatan risiko itu dipicu oleh kalahnya dukungan untuk Presiden Nicholas Sarkozy pada pemilu putaran pertama dan pengunduran diri Perdana Menteri Belanda.
Karena itu, Christian menegaskan, hari ini rupiah cenderung kembali melemah menguji level 9.200. Pelaku pasar akan menguji lagi intervensi dari BI pada level itu. "Jika rupiah tembus 9.200, rupiah berpotensi melemah ke 9.219 per dolar AS. Sementara itu, level support rupiah berada di angka 9.180 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dipicu oleh risiko pasar dari outlook ekonomi AS yang akan dinyatakan oleh Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) nanti malam. "Pasar juga mengantisipasi arah kebijakan moneternya. Itulah yang jadi faktor utama pergerakan rupiah," paparnya.
Memang, kata Christian, The Fed cenderung mempertahankan suku bunga rendah seperti sinyal yang diberikan sebelumnya. Kondisi ini, biasanya memicu capital inflow ke emerging market. Sebab, investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi seiring penurunan yield obligasi di AS karena ekspetasi rendahnya tingkat suku bunga.
Di sisi lain, yield obligasi di emerging market relatif tinggi seiring tingginya inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga pangan dan energi. Sinyal dari The Fed itu, seharusnya bisa memperkuat rupiah. "Tapi, ini baru akan terjadi dalam jangka panjang," imbuh Christian.
Pasalnya, untuk jangka pendek, pasar sudah mendiskon dipertahannya suku bunga AS meskipun untuk jangka panjang, memang akan terjadi pelemahan dolar AS. "Masalahnya, para investor sudah mulai mendiskon peluang rendahnya suku bunga The Fed. Rendahnya suku bunga, diperkirakan pasar justru untuk kembali menarik stimulus. Pasar sejauh ini masih ragu-ragu," imbuhnya.
Jadi, hari ini pasar masih diwarnai kecemasan di Eropa, ditambah spekulasi penarikan stimulus dari The Fed. "Pasar menunggu arah kebijakan baru dari The Fed yang belum diantisipasi pasar," imbuhnya.
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (24/4/2012) ditutup melemah tipis 4 poin (0,04%) ke angka 9.186/9.196.