Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 15:15 WIB

Pemilu Perancis Picu Rupiah Lesu

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 23 April 2012 | 17:10 WIB
Pemilu Perancis Picu Rupiah Lesu
Inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (23/4/2012) ditutup melemah 2 poin (0,021%) ke angka 9.185/9.188.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh memburuknya sentimen eksternal seiring meningkatnya risiko politik. Menurutnya, risiko politik kembali muncul setelah hasil pemilu Perancis menunjukkan adanya kemungkinan pergantian presiden di Perancis.

Firman menjelaskan, Presiden Perancis Nicholas Sarkozy mengalami penurunan dukungan dibandingkan dukungan untuk rivalnya calon Presiden Perancis Francois Hollande. "Karena itu, rupiah melemah dengan level terlemahnya 9.188 dan 9.170 sebagai level terkuatnya dari poisi pembukaan 9.170 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (23/4/2012).

Pada awalnya, kata dia, pasar berharap positif pada hasil pertemuan International Monetary Fund (IMF), G20 dan Bank Dunia akhir pekan lalu. "Ini sebenarnya memberikan kabar yang gembira setelah IMF berhasil mendapatkan komitemen tambahan dana dari negara anggotan hingga mencapai level US$430 miliar di atas target US$400 miliar," ujarnya.

Firman menjelaskan, angka tersebut sebenarnya memberikan cukup dana bagi IMF untuk menolong negara-negara yang bermasalah di zona euro. "Hanya saja, dengan hasil voting yang menunjukkan belum adanya suara di atas 50%, seharusnya akan ada pemilu lanjutan awal Mei 2012," timpalnya.

Diperkirakan, kata Firman, Hollande akan memenangkan pemilu. "Pasar melihat, kemenangan ini akan mengubah sedikit landscape politik di Eropa," paparnya.

Pada saat yang sama, kata dia, pasar bakal dihadapkan pada pemilu dini di Belanda setelah salah satu pendukung partai koalisi pemerintahan menolak usulan kebijakan pemerintah untuk memangkas pengeluaran. "Akibatnya, Belanda berpeluang menggelar pemilu dini. Namun, ini tentunya dicemaskan pasar, apakah Belanda bisa mempertahankan peringkat AAA-nya seiring peluang pergantian pimpinan politik di Belanda sendiri," tuturnya.

Selain itu, kata Firman, pasar juga mendapat tekanan negatif dari data yang dirilis di Jerman. Indeks manufaktur Jerman mengalami kontraksi ke 46,3 dari prediksi 49 dan angka sebelumnya 48,4. "Begitu juga dengan data manufaktur Eropa yang tidak begitu positif," ungkapnya.

Data-data tersebut, menurutnya, menegaskan ancaman resesi yang tengah membayangi Eropa. "Jadi, buruknya data ekonomi memperparah risiko politik yang ada sehingga euro melemah dan dolar AS menguat. Rupiah pun ikut terseret. Tapi, pelemahan rupiah hanya tipis karena pasar mengantisipasi intervensi BI jelang level 9.200-an," ucap Firman.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat ke 79,445 dari sebelumnya 79,194. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke US$1,3144 dari sebelumnya US$1,3191 per euro," imbuh Firman.

 
x