INILAH.COM, Jakarta – Risiko ekstenal dinilai masih cukup besar menentukan volatilitas IHSG. Karena itu, pasar disarankan untuk fokus pada saham-saham berorientasi domestik.
Kepala Riset Henan Putihrai Securities Felix Sindhunata mengatakan, volatilitas pasar menunjukkan peningkatan signifikan sekaligus jadi pertana tingginya risiko. Kondisi ini, salah satunya dipicu oleh kecemasan pasar terhadap kemampuan Spanyol dan Italia dalam mengendalikan outlook fiskal.“Tingginya risiko eksternal mendorong kami merekomendasikan saham yang memiliki eksposure ke pasar domestik,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Senin (16/4/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 12,70 poin (0,31%) ke angka 4.146,581 dengan intraday tertinggi 4.164,485 dan terendah 4.135,623. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 4,69 poin (0,66%) ke posisi 707,59. Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG ditutup melemah ke angka 4.146. Bagaimana Anda melihat arahnya hingga akhir pekan?
Hingga akhir pekan, IHSG berpeluang melemah. Sebab, secara keseluruhan, risiko pasar masih tinggi. Lihat saja volatility index (VIX) dan USD indeks yang bergerak menguat sejak awal April. Kondisi ini terjadi seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemampuan Spanyol dan Italia dalam mengendalikan outlook fiskal.Kami menilai VIX indeks akan terus bergerak menguat atau setidaknya akan konsisten mendekati level tertinggi di tahun 2012.
Selain itu, ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi AS yang berkualitas dan softlanding di China akan turut mempengaruhi pergerakan indeks ini.
Bagaimana dengan faktor Eropa?
Kekhawatiran terhadap Krisis di Eropa semakin meningkat dan konfirmasi tingginya risiko Pasar. Lonjakan tajam terjadi pada yield obligasi pemerintah Spanyol bertenor 10 tahun. Ketidakmampuan pemerintah Spanyol untuk memenuhi target defisit 3% bahkan turun ke 4,4% memicu kekhawatiran pasar terhadap kemampuan pemerintah mengelola defisit anggaran yang terjadi.
Pemangkasan anggaran senilai 10 miliar euro, tidak mampu memberikan keyakinan ke pasar. Pesimisme pasar dipicu oleh tingkat pengangguran yang tinggi serta kekhawatiran pemerintah otonomi daerah yang tidak mau tunduk pada kebijakan pengetatan yang diminta oleh pemerintah pusat.
Kesulitan ini dipicu oleh banyaknya daerah otonomi yang dikuasai oleh partai oposisi. Karena itu, yield obligasi Spanyol menurut pandangan kami akan sangat mudah menyentuh level 7% dan akan mempersulit pemerintah Spanyol untuk memperoleh pinjaman dari pasar finansial.
Bagaimana dengan Italia?
Italia dan Spanyol merupakan negara ke 4 dan ke 5 terbesar di Eropa sehingga efek negatif yang timbulkan akan lebih besar daripada Yunani yang secara nilai Produk Domestik Bruto (PDB) berada di ranking 12 di Eropa.
Ada sisi positifnya dari Eropa?
Sisi positif yang kami lihat adalah tindakan preventif yang dilakukan terhadap Yunani untuk menghindari default dapat diterapkan di Spanyol dan Italia. Demikian pula fungsi lembaga seperti Troika, The European Financial Stability Facility (EFSF) dan The European Stability Mechanism (ESM) juga sudah lebih siap dari sisi institusi.
Namun kekhawatiran kami adalah kedua negara itu (Italia dan Spanyol) terlalu besar untuk di-bailout namun akan menciptakan kekacauan sistem finansial global yang lebih besar dari Yunani apabila dibiarkan gagal.Yield Obligasi Pemerintah Spanyol semakin tinggi hingga mencapai 5,91% untuk tenor 10 tahun. Begitu juga dengan Yield Obligasi Pemerintah Italia yang naik ke 5,56%.
Bagaimana dengan China setelah rilis PDB yang turun ke 8,1%?
Ya dari Asia, pemerintah China merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2012 pada Jumat, 13 April ini. PDB China anjlok ke 8,1% pada kuartal I-2012 dari kuartal sebelumnya 8,9%. Sebelumnya, median estimasi Bloomberg berada di 8,4% untuk kuartal pertama 2012.
Data GDP yang terdeviasi terlalu rendah dibandingkan dengan estimasi pasar akan memberikan sentiment negatif di pasar global terutama pasar komoditas. Sebab, China merupakan negara konsumen terbesar kedua setelah AS. Investor akan menilai seberapa besar ekonomi China melambat.
Sementara itu, tekanan inflasi terlihat dari sisi komoditas baik soft maupun hard commodity terlihat mulai berkurang. Namun demikian,kami memperkirakan turunnya tekanan inflasi dari sisi komoditas ini akan bersifat temporer.Sebab, harga minyak mentah yang merupakan pemicu terbesar inflasi dari sisi biaya, kami perkirakan akan mulai kembali menguat antara akhirbulan Juni hingga awal September sejalan dengan driving season di AS serta masuknya periode musim badai di teluk Mexico Junihingga November.Dilihat dari grafiknya, indeks Pergerakan Harga Komoditas terlihat stabil.
Jadi situasi pasar global secara keseluruhan bagaimana?
Secara historis periode April hingga September, dalam 10 tahun terakhir, merupakan periode di mana pasar akan diwarnai dengan volume perdagangan yang relatif tipis. Arah pergerakan pasar yang membingungkan, kekhawatiran inflasi sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah.
Dalam 10 tahun terakhir tercatat hanya 4 tahun di mana triwulan 2 dan 3 (April – September) Indeks Dow Jones menguat 2 triwulan berturut-turut yaitu 2003, 2006, 2007 dan 2009. Walaupun terkorelasi dikisaran 0,5%, namun sentimen ini memiliki pengaruh cukup kuat di pasar Asia termasuk sentimen pasar di IHSG.
Risiko eksternal menurut pandangan kami masih cukup kuat mengingat volatilitas pasar ditentukan oleh tingkat keyakinan investor terhadap krisis di Eropa. Pasar yang ditentukan oleh persepsi dan tingkat keyakinan pasar terhadap suatu issue akan memicu terjadinya volatilitas dan berpeluang memicu keringnya likuiditas di pasar finansial.
Lalu, saham-saham seperti apa yang menarik di tengah situasi global yang tak menentu?
Kami menilai saham-saham berorientasi domestik masih terlihat menarik walaupun terlihat diperdagangkan dengan level premium. Sedangkan saham-saham perkebunan masih akan menarik terutama terkait kekeringan di Amerika Selatan yang mempengaruhi suplai minyak kedelai di pasar global.Saham komoditas tambang dalam posisi valuasi yang menarik namun apabila risiko pasar meningkat, valuasi sektor tambang masih berpeluang untuk turun.
Level support dan resistance IHSG?
Dalam sepekan ke depan, IHSG berpeluang untuk bergerak melemah mengingat juga tingginya valuasi saat ini. Current Price Earnings Ratio (PER) IHSG 21,41 kali dan indicator teknis yang mengindikasikan minimnya momentum penguatan. Kisaran pergerakan akan berada di area support 4.080 dan resistance 4.200.
Tingginya risiko eksternal mendorong kami merekomendasikan saham yang memiliki eksposure ke pasar domestik. Namun demikian koreksi teknis yang terjadi atas harga Crude Palm Oil (CPO) saat ini, kami nilai bersifat jangka pendek mengingat kekhawatiran suplai kedelai masih menjadi issue penting di sektor ini.
Spesifik saham pilihannya?
Beberapa saham yang kami lihat memiliki momentum penguatan yang cukup baik dalam sepekan ke depan antara lain PT Astra Agro Lestari (AALI) dengan target price Rp24.120 dengan Price Earnings Ratio (PER) saat ini tahun 2012 13,06 kali.
Lalu, PT London Sumatera Plantation (LSIP) dengan target harga saat ini Rp3.328 dan PER 11,71 kali. PT XL Axiata (EXCL) dengan target harga Rp5.820 dan PER saat ini 12,12 kali, PT Jasa Marga (JSMR) target harga Rp5.916 dan PER saat ini 21,11 kali, PT Gudang Garam (GGRM) dengan target price Rp61.800 dan PER saat ini 19,49 kali dan PT Bank Mandiri (BMRI) dengan target price Rp8.260 Price to Book Value Ratio (PBV) 2,21 kali.