INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (16/4/2012) ditutup melemah 12 poin (0,13%) ke angka 9.184/9.194 dari posisi kemarin 9.172/9.182.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini terutama dipicu oleh sentimen global yang menjadi semakin rapuh. Terutama, terhadap recovery global akibat kenaikan yield obligasi Spanyol untuk tenor 10 tahun.
Yield obligasi Spanyol mencapai 5,95% alias nyaris 6% dari sebelumnya 5,91%. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 9.194 setelah mencapai level terkuatnya 9.152 dari posisi pembukaan 9.170 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (12/4/2012).
Pada saat yang sama, lanjut Christian, Credit Default Swap (CDS) untuk Spanyol juga naik ke rekor tertinggi 500,5 basis poin. Ini merupakan jaminan jika Spanyol mengalami gagal bayar. "Dengan kenaikan angka CDS ini, risiko default Spanyol semakin tinggi," timpalnya.
Selain itu, kata dia, sentimen negatif datang dari pertemuan para pejabat keuangan G20, International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. "Pertemuan itu telah menghasilkan prediksi perekonomian global yang pertumbuhannya semakin suram," ujarnya.
Semua itu, memicu peralihan posisi para investor dari aset-aset berisiko ke aset-aset aman seperti dolar AS. Kondisi ini disebut dengan istilah risk aversion (penghindaran risiko). "Karena rupiah termasuk aset berisiko, rupiah juga turut tertekan negatif," tuturnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,27% ke angka 80,27 dari sebelumnya 80,03. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3014 dari sebelumnya US$1,3081," imbuhnya.