INILAH.COM, Jakarta - Ketidakpastian rencana penaikan harga BBM bersubsidi akan memicu volatilitas rupiah dalam jangka pendek.
"Kita tahu harga BBM subdisi dan non subsidi sudah semakin besar. Akibatnya, karena tidak ada ketidakpastian kapan naiknya, menyebabkan inflasi gantung dan akhirnya berdampak ke rupiah," ujar Ekonom Bank Mandiri Destri Damayanti di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat, (13/4/2012). Dengan demikian, lanjutnya, rupiah akan cenderung bergerak volatile dalam jangka pendek.
Namun bila telah ada kepastian penaikan harga BBM bersubsidi, ia mengatakan, rupiah akan kembali normal. Kendati demikian, ia mengingatkan pelemahan rupiah patut diwaspadai karena akan menimbulkan tekanan pada neraca pembayaran.
"Hanya jangka pendek saja, pada saat kepastian terjadi maka kembali normal suatu hal yang diwaspadai, pelemahan rupiah memang kalau kita lihat tekanan di neraca pembayaran besar current defisitnya di mana sebagian besar, disebabkan trade balance (neraca pembayaran) yang makin squished (tertekan)," jelas Destry.
Selain itu, utang swasta yang jatuh tempo pada kuartal pertama juga akan menimbulkan tekanan ke rupiah. Destry memperkirakan, pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan berada pada level Rp9.150-Rp9.250. Sementara untuk jangka menengah dan panjang, ia tetap optimis pergerakan rupiah akan positif.
"Dengan kondisi seperti ini memang agak berat pertahankan rupiah di bawah Rp9.200, karena saat ini demand (permintaa) rupiah begitu besar. Saya melihat lebih mungkin level Rp9.150-Rp9.250 adalah level kondisi seperti ini," kata Destry. [mre]