INILAH.COM, Jakarta – Bergulirnya program MP3EI dinilai telah melecut saham sektor konstruksi, properti dan (seharusnya) semen. Karena itu, saham-saham dari tiga sektor itu masih bertenaga naik.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, percepatan ekonomi melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) membutuhkan infrastruktur tol untuk akses antar daerah. Kondisi ini jadi peluang bagi emiten di sektor konstruksi.
Konstruksi itu, lanjut dia, membutuhkan semen untuk fondasi cakar ayam dan jalan layang. Setelah itu, efek positifnya adalah ke emiten-emiten di sektor properti. “Sebab, emiten di sektor properti seperti ASRI yang memiliki akses tol harga sahamnya langsung melejit,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Kamis (12/4/2012), saham PT Jasa Marga (JSMR) ditutup stagnan pada Rp5.000; PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) naik Rp100 (4,76%) ke angka Rp2.200; dan PT Wijaya Karya (WIKA) naik Rp30 (3.37%) ke angka Rp920;
PT Nusantara Infrastructure (META) naik Rp10 (3,57%) ke Rp290; PT Semen Gresik (SMGR) menguat Rp250 (2,10%) ke Rp12.150; PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP) menanjak Rp550 (3,05%) dan PT Alam Sutera Realty (ASRI) naik Rp10 (1,69%) ke posisi Rp600 per saham. Berikut ini wawanca lengkapnya:
Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) telah bergulir. Bagaimana dampaknya terhadap saham-saham di sektor konstruksi?
Positif. Sebab, masalah percepatan ekonomi adalah transportasi atau hubungan antar daerah. Karena itu, MP3EI membutuhkan akses jalan terutama jalan tol. Masalah yang satu ini menjadi kendala dalam perekonomian Indonesia. Seperti Pantura yang macet dan kondisi jalan yang buruk. Banyak jalan yang tidak bisa dilewati truk dalam 24 jam.
Lantas, apa hubungannya dengan saham-saham di sektor konstruksi?
Kondisi itulah yang membuat emiten di sektor konstruksi seperti JSMR dan CMNP mendatapatkan peluang. Sebab, bisnis perseroan adalah pengelola jalan tol. MP3EI menjadi peluang bagi mereka untuk bisa mengatasi masalah transportasi itu.
Pembangunan jalan tol, tampak dalam beberapa tahun terakhir sudah digenjot seperti tol lingkar luar. Artinya, pemerintah melihat, jalan tol memang solusi untuk mempercepat pembangunan ekonomi melalui akses-akses antar wilayah.
Itu yang jadi alasan saham-saham di sektor konstruksi menguat?
Ya. Saham-saham sektor konstruksi terus berada dalam tren naik seperti WIKA yang punya konsesi jalan tol dan kontraktor utama JSMR. Begitu juga dengan META meski kepemilikan jalan tolnya pendek di Banten.
Masih ada potensi penguatan lebih jauh?
Saya melihat potensi kenaikan pada saham-saham tersebut yang secara teknikal juga masih cukup tenaga untuk naik. Untuk jangka pendek, saham-saham tersebut bagus juga sebagai saham defensive.
Bagaimana dengan sektor semen?
Selain emiten di sektor konstruksi jalan tol, MP3EI juga berimbas positif ke saham-saham di sektor semen. Sebab, jalan tol juga dibuat dari semen dan bukan aspal. Apalagi, dengan jalan tol yang menggunakan fondasi cakar ayam yang pasti jor-joran menggunakan semen. Begitu juga dengan jalan layang.
Saham jagoan Anda di sektor semen?
Saya menjagokan saham SMGR dan INTP. Meskipun sebelumnya, saham sektor ini terimbas negatif oleh penantian ketuk palu penaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Padahal, pabrik semen, banyak menggunakan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tapi sekarang, pemerintah dan DPR sudah menyepakati, tidak ada penaikan TDL untuk 2012.
Berimbas positif juga untuk saham-saham sektor properti?
Ya. Sebab, jalan tol juga menghubungkan perumahan-perumahan. Biasanya, properti yang memiliki akses jalan tol, juga bisa positif sehingga harga saham turut melejit. Contohnya, ASRI yang baru dilirik setelah ada akses jalan tol dan harga sahamnya melesat signifikan.
Di sektor konstruksi, saya menjagokan JSMR dan WIKA. Kedua saham ini masih dalam tren naik. JSMR punya potensi kenaikan teknikal ke Rp5.500. Pembelian bisa dilakukan pada Rp4.900-5.000.
Apa rekomendasi Anda?
Saya rekomendasikan buy saham JSMR dan WIKA. Sementara itu, pertumbuhan CMNP agak lambat seiring kurangnya akses pendanaan. Tak ada rekomendasi untuk CMNP.