INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS pada kontrak harga emas di London, Kamis (12/4/2012) ditutup melemah 6 poin (0,06%) ke 9.174/9.184 dari posisi kemarin 9.168/9.178.
Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh kecemasan pasar atas kenaikan yield obligasi negara-negara anggota Uni Eropa. Antara lain, Spanyol, Italia dan Portugal.
Menurutnya, yield obligasi Spanyol masih tinggi di angka 5,82% per hari ini dari sebelumnya yang sempat mencapai 5,91% untuk tenor 10 tahun. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.183 setelah mencapai level terkuatnya 9.166 dari posisi pembukaan 9.173 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (12/4/2012).
Begitu juga dengan Italia di angka 5,50% dari sebelumnya 5,56%. Bahkan yield obligasi Portugal, naik dari 12% ke 12,2%. "Karena itu, pasar melihat resiko default pada ketiga negara itu sewaktu-waktu. Jika tidak Portugal, Italia atau Spanyol yang bakal gagal bayar," ujarnya.
Selain itu, rupiah juga mendapat tekanan negatif dari hasil lelang obligasi pemerintah Jerman yang mengalami penurunan rasio bit-to-cover. Penurunan ini menunjukkan lemahnya permintaan.
Kondisi ini, lanjut Christian, menunjukkan kecemasan pasar meluas hingga mencapai obligasi inti di Eropa yakni Jerman. "Bid-to-cover obligasi Jerman turun ke 1,1 kali dari lelang sebelumnya 1,4 kali," paparnya.
Alhasil, meski dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa), rupiah masih lesu. Indeks dolar AS turun 0,15% ke angka 79,87 dari sebelumnya 79,96. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3126 dari sebelumnya US$1,3110 per euro," imbuh Christian.