Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 20:27 WIB

Eforia Yunani Tergerus "Soft Landing" China

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 9 Maret 2012 | 18:45 WIB
Eforia Yunani Tergerus
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG menguat tapi rupiah tak kompak. Tercapainya 80% partisipasi debt swap Yunani tergerus oleh sentimen negatif soft landing dari rilis terakhir data-data ekonomi China.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, seharusnya, optimisme Eropa berdampak positif pada rupiah seiring tercapainya 80% partisipasi kreditor swasta pada debt swap Yunani. Tapi, hal itu tampak sudah terdiskon sehingga pasar lebih merespon data-data ekonomi dari China yang dirilis kurang menggembirakan.

Kondisi ini, memicu aliran modal keluar karena investor melakukan aksi profit taking mengingat adanya risiko perlambatan ekonomi China yang akan berimbas ke Indonesia. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.135 setelah mencapai level terkuatnya 9.112 per dolar AS dari posisi pembukaan 9.122," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (9/3).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (9/3) ditutup melemah tipis 1 poin (0,01%) ke level 9.131/9.141 per dolar AS dari posisi kemarin 9.130/9.140.

Lebih jauh Christian menjelaskan, pelaku pasar mengalihkan dananya pada aset-aset yang dipandang lebih menguntungkan dibandingkan rupiah. "Jadi, hubungan yang paling nyata adalah arus hot money jadi keluar," ujarnya.

Data-data ekonomi China yang kurang menggembirakan antara lain, inflasi China untuk Februari 2012 yang angkanya jatuh di bawah konsensus di level 3,2% (year on year) dibandingkan bulan sebelumnya 4,5%. "Level 3,2% sekaligus merupakan level terendah dalam dua tahun terakhir," timpal Christian.

Kondisi itu, lanjutnya, mengindikasikan adanya soft landing. Artinya, China mengalami perlambatan ekonomi. Apalagi, kondisi itu diperparah dengan lapporan penjualan ritel pada Januari hingga Februari yang hanya bertambah 14,7% di bawah bulan sebelumnya 18,1%.

Lalu, kata Christian, ada laporan produksi pabrik China bulan Februari yang angkanya juga jatuh di bawah bulan sebelumnya jadi 11,4% dari sebelumnya 12,8%. "Jadi, data-data ekonomi dari China secara umum justru berimbas negatif pada rupiah," timpal Christian.

Dia menegaskan, dengan memburuknya data inflasi China memicu spekulasi pasar, tentan peluang adanya pelonggaran moneter di negeri Tirai Bambu itu lebih lanjut untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Tapi, Christian menggarisbawahi, pelemahan rupiah hanya tipis karena masih ada optimisme dari debt swap Yunani yang menunjukkan adanya partisipasi sebesar 80% dari para kreditor swasta atau di atas target 75%. "Meskipun, Yunani sebenarnya membutuhkan 90% partisipasi untuk menghindari pemaksaan bagi para kreditor yang tidak berpartisipasi dan menanggung kerugian," imbuhnya.

Artinya, karena masih di level 80%, Yunani harus memaksa kreditor lain yang belum berpartisipasi. "Jika di bawah 75%, Yunani terancam batal untuk mendapatkan bailout tahap kedua," paparnya.

Tapi, secara umum sentimennnya positif karena Yunani berhasil mengamankan paket bailout. "Hanya saja, karena sentimen dari China negatif, rupiah pada akhirnya sideways cenderung melemah," tutur Christian.

Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS menguat 0,18% ke level 79,33 dari sebelumnya 79,18. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3225 dari sebelumnya US$1,3273 per euro," imbuh Christian.

Dari bursa saham, analis dari Equator Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) sebesar 23,88 poin (0,60%) ke level 3.991,544 seiring penguatan yang terjadi pada bursa regional Asia setelah penguatan signifikan pada Dow Jones Industrial Index (DJI) pada perdagangan tadi malam.

Menurutnya, Dow kembali berada di zona hijau walaupun laporan data klaim mingguan pengangguran naik 8.000 menjadi 362.000. Hal tersebut menurutnya, tidak menjadi sentimen negatif karena jumlah klaim masih di bawah level terndah 4 tahun terakhir. "Sentimen positif datang juga dari info bahwa Yunani akan menyelesaikan debt swap-nya dengan para kreditor swasta," imbuh Gina.

Komentar

Embed Widget
x