INILAH.COM, Jakarta - Investor pemegang saham PT Smartfren Tbk (FREN) terpaksa harus mengeluarkan dana jika tidak ingin sahamnya terdilusi saat aksi rights issue bergulir.
Saham FREN sudah lama tidak bergerak hanya di level Rp50 per lembar. Sahamnya mulai beringsut setelah manajemen melakukan reverse stock split dengan nilai nominal saham seri A menjadi Rp2.000 per saham dari sebelumnya Rp100 per saham. Sedangkan nilai nominal saham seri B menjadi Rp1.000 per saham dari semula Rp50 per saham. Reverse stock tersebut dengan perbandingan 20:1.
Selain itu, perseroan melakukan penawaran umum terbatas atau rights issue. Jumlah saham baru yang akan diterbitkan sebanyak 13,36 miliar saham seri C dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Setiap pemegang saham seri A dan seri B berhak atas dua saham. Nilai nominal saham seri C tersebut sebesar Rp100 dengan harga penawaran Rp100.
"Intinya FREN sedang mencari dana tambahan. Dengan rights issue maka investor harus menyetor modal. Jika tidak maka sahamnya akan terdilusi," kata pelaku pasar modal, Iwan Firmansyah kepada INILAH.COM, kemarin.
Investor banyak yang terkejut dengan perubahan harga saham FREN. Sebab setelah reverse stock di harga Rp1.000 justru harganya berada di level Rp100. "Inilah risiko saham yang tidak memiliki fundamental bagus," katanya yang juga dari komunitas saham Warungijo.
Namun Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menilai aksi korporasi reverse stock lalu rights issue yang dilakukan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) merupakan hal biasa yang dilakukan oleh perusahaan.
"Itu sudah banyak dilakukan perusahaan. Harga sahamnya rendah lalu terbitkan saham baru lagi, kenyataannya di pasar seperti itu. Harga tersebut sesuai pasar," ujar Kepala Biro Penilai Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK, Noor Rahman, Jumat (24/2/2012).
Pada perdagangan kemarin, saham FREN turun Rp5 ke Rp103 dengan volume 351,173 saham senilai Rp18,7 miliar sebanyak 3.143 kali transaksi.