INILAH.COM, Jakarta – Meski profit taking berpeluang berlanjut, IHSG diprediksi bakal datar. Sebab, pada beberapa saham bakal mengalami bargaining position. Saham apa saja?
Analis dari Capital Bridge Indonesia Aji Martono mengatakan, potensi profit taking masih dipicu oleh wacana opsi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah. Pasar mengkhawatirkan lambungan inflasi.
Tapi, laju IHSG juga masih mengikuti pergerakan bursa global. Jika Dow Jones menguat, indeks domestik pun berpeluang naik. Aji merekomendasikan beberapa saham pada grup Astra, pertambangan, dan properti. “Saya rekomendasikan buy on support saham-saham tersebut saat IHSG mendekati support 3.934. Hati-hati juga, jangan bermain pada saham-saham gorengan,” katanya kepada INILAH.COM.
Pada perdagangan Kamis (23/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 36,22 poin (0,91%) ke level 3.958,809 dengan intraday tertinggi 3.994,659 dan terendah 3.953,426. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 9,02 poin (1,30%) ke level 684,966.Berikut ini wawancara lengkapnya:
IHSG melemah hampir 1%. Bagaimana Anda memperkirakan arah IHSG akhir pekan ini?
Penutupan IHSG kemarin masih jauh di atas support IHSG 3.934 dan resistance di level 3.987. Pergerakan IHSG masih mengekor laju bursa global yang mengalami penurunan. Dari dalam negeri, wacana kenaikan harga BBM masih memicu kekhawatiran sebagian investor atas lonjakan inflasi yang ditimbulkannya. Inilah yang menyebabkan investor profit taking.
Jadi, arah IHSG masih melemah?
Meski dua hari terakhir mengalami penurunan dan hari ini merupakan hari terakhir perdagangan pekan ini, Jumat ini pergerakan indeks cenderung mendatar (flat). Cermati juga strategi follow the global market terutama pergerakan Dow Jones.
Di sisi lain, cermati juga laporan Jobless Claims AS. Jika laporan tersebut direspon positif oleh bursa AS pertanda investor AS juga melakukan bargaining position. Ini juga akan berdampak positif bagi IHSG jika memang data AS itu dirilis positif. Begitu juga sebaliknya.
Saham pilihan Anda?
Sektor saham yang menguat kemarin adalah properti. Di sisi lain, ada beberapa saham bluechips yang layak akumulasi. Seiring rencana kenaikan harga BBM, saham-saham di sektor pertambangan akan jadi alternatif terutama saham-saham yang menjadi substitusi minyak seperti batu bara.
Spesifik saham pilihan Anda?
Saham-saham pilihannya adalah PT Aneka Tambang (ANTM), PT Adaro Energy (ADRO), PT International Nickel Indonesia (INCO), PT Indo Tambang Raya (ITMG), PT Harum Energy (HRUM) akan mendapat sentiment positif dan bargaining position. Saham-saham tersebut akan menahan IHSG dari penurunan lebih dalam.
Selain itu, penurunan pada saham PT Astra Internasional (ASII) dan PT United Tractor (UNTR) membuat investor juga akan mulai mencermati untuk bargaining. Karena itu, peluang akumulasi terbuka lebar pada kedua saham ini. Apalagi, ASII merupakan saham penopang pelemahan dan penguatan IHSG. Bisa jadi, ASII dan UNTR akan jadi pemicu kenaikan indeks.
Di sektor properti?
Di sektor properti, direkomensikan yang punya fundamental cukup bagus di grup Ciputra terutama PT PT Ciputra Surya (CTRS), PT Summarecon Agung (SMRA) dan PT Metropolitan Land (MLTA).
Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?
Saya rekomendasikan buy on support saham-saham tersebut saat IHSG mendekati support 3.934. Hati-hati juga, jangan bermain pada saham-saham gorengan.