INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (23/2) ditutup menguat tipis 5 poin (0,05%) ke 9.040/9.050 per dolar AS dari posisi kemarin 9.045/9.055.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, di awal sesi, rupiah mendapat tekanan hebat seiring munculnya kekhawatiran tingginya harga minyak dunia terhadap performa ekonomi domestik dan juga regional. Menurutnya, jika harga minyak terus melonjak, bank sentral di kawasan dikhawatirkan tidak akan melanjutkan kebijakan monternya lebih lanjut sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi.
Padahal, kata Firman, pekan lalu Bank of Japan (BoJ) menambah pembelian asetnya senilai 10 triliun yen. Begitu juga dengan People's Bank of China (PBoC) yang juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 21% menjadi 20,5%. "Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terkuatnya 9.035 dan 9.080 sebagai level terlemahnya dari posisi pembukaan 9.060 per dolar AS” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (23/2).
Jadi, Firman menegaskan, melonjaknya harga minyak dunia yang kemarin tembus US$106 per barel, diprediksi, dapat mencegah bank sentral di kawasan untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Karena itu, penguatan rupiah hari ini tertahan.
Apalagi, sebelumnya, Bank of England (BoE) juga menambah program pembelian obligasinya senilai 50 miliar poundsterling. "Jadi, pasar masih cemas pada harga minyak seiring kondisi Timur Tengah yang semakin tidak pasti," timpalnya.
Pasar melihat, kata Firman, adanya ancaman serangan Israel ke Iran. Itulah yang dikhawatirkan. "Sebab, Iran sejauh ini tidak mau menghentikan program nuklirnya," ucap dia.
Lembaga inspektur dari The International Atomic Energy Agency (IAEA) sudah menghentikan negosiasi dengan Teheran karena IAEA dilarang mengakses wilayah yang diprediksi memiliki fasilitas nuklir yang lebih canggih. "Masalahnya, di pihak lain, AS dan Israel belum menutup kemungkinan tindakan militer untuk menghentikan agresi pengembangan nuklir Iran," imbuhnya.
Secara historis, lanjut Firman, Israel pernah menyerang Irak setelah Irak memberikan sinyal program nuklir yang lebih mutakhir pada 1990-an. "Dikhawatirkan, Iran akan diperlakukan seperti Irak," ucapnya.
Alhasil, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun ke level 78,860 dari sebelumnya 79,21. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,3320 dari sebelumnya US$1,3245 per euro," imbuh Firman.