Find and Follow Us

Sabtu, 23 November 2019 | 03:18 WIB

Sulitnya AS Menghentikan Ekspor Minyak Iran

Oleh : Wahid Ma'ruf | Sabtu, 18 Februari 2012 | 12:42 WIB
Sulitnya AS Menghentikan Ekspor Minyak Iran
nytimes.com
facebook twitter

INILAH.COM, New York - Presiden AS Barack Obama tidak dapat langsung memberi sanksi kepada Iran karena pasar akan merespon negatif. Selain itu, penghentian impor minyak Iran akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia.

Upaya Obama untuk membujuk Iran menghentikan program nuklirnya ternyata cukup sulit. Apalagi, Obama akan menghadapi pemilu dan harus menghadapi sorotan dari lawan politiknya.

Meskipun pejabat AS telah berulang kali melakukan pertemuan dengan negara sekutunya seperti Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini sangat tergantung pada minyak Iran. Penghentian impor minyak Iran akan sangat mengganggu pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut. Demikian mengutip yahoofinance.com.

Ekonomi AS sendiri cukup sulit mengatasi kenaikan harga minyak dunia yang sangat drastis. Kenaikan ini telah menekan proses pemulihan ekonomi AS. Ini akan menjadi isu utama lawan politiknya mencari simpatik. Nasib Obama pun menjadi suram tentang kepastian akan terpilih lagi pada bulan November mendatang.

"Tujuan sanksi yang dukukung undang-undang dari perlemen AS tidak untuk menghukum suatu negara. Tujuannya adalah untuk menjinakkan Iran," dalih Daniel Glaser, pejabat di Departemen Keuangan AS.

Parlemen AS telah mengesahkan undang-undang baru yang memberi kewenangan kepada Obama untuk memutuskan kerja sama bank asing dengan industri keuangan di Iran. Dengan kata lain, bank sentral AS dan industri keuangan AS untuk memutus kerja sama dengan Iran. Hal ini diharapkan dapat mempersulit transaksi ekspor minyak Iran.

Minyak Brent melemah pada perdagangan Jumat (17/2/2012) dengan aksi ambil untung yang dilakukan investor, setelah menguat selama empat hari sebelumnya.

Harga minyak jenis Brent turun 53 sen menjadi US$119,58 per barel di London setelah sempat menembus level tertinggi sejak 15 Juni 2011 di US$120,70 per barel. Sementara minyak AS jenis light sweet menguat 93 sen menjadi US$103,24 per barel di New York.

Komentar

Embed Widget
x