INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah harus mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkualitas dapat mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) agar dapat menarik investor asing membeli saham di BEI lagi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito menuturkan, setiap investor khususnya investor asing akan membandingkan valuasi harga saham dengan bursa saham lain untuk mencari potensial imbal hasil lebih baik.
Eddy menilai, sementara ini asing sedang mencari potensi imbal hasil lebih baik di bursa saham negara lain yang memiliki valuasi harga saham masih murah dibandingkan bursa saham Indonesia. Apalagi data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan penguatan sehingga turut mempengaruhi bursa saham.
"Investor akan melakukan perbandingan harga. Mereka mencari potensi return yang lebih baik. Untuk sementara mereka mencari pasar saham yang sebelumnya telah turun," ujar Eddy, di kantornya, Jumat (17/2/2012).
Meski begitu, Eddy optimis Indonesia masih menjadi aset dan tempat menarik untuk berinvestasi bagi investor asing. Apalagi bila bursa saham negara lain telah memiliki jarak tipis dengan bursa saham Indonesia,maka akan kembali ke Indonesia. Menurutnya, saat ini waktu untuk mulai mengoleksi saham agar investor tidak terlambat ketika asing ke Indonesia lagi.
Menurut Eddy, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar investor kembali berinvestasi di Indonesi. Pertama, BUMN dan perusahaan berkualitas lain didorong untuk melakukan penawaran umum saham perdana. Kedua, investor dapat melirik saham lapis kedua yang memiliki fundamental baik.
"PR kita, harus mencari supply saham lebih baik dan berkualitas. Satu-satunya motor yaitu BUMN. Pemerintah dapat mempercepat BUMN untuk melakukan penawaran umum saham perdana dengan struktur baik," kata Eddy.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2,76% secara year to date kemarin. Sementara itu, bursa saham India mencatatkan kenaikan indeks 17,28% dan bursa saham Hong Kong naik 15,65%. [hid]