INILAH.COM, Washington - Pertumbuhan ekonomi yang landai dan ketegangan politik akan menggerus stabilitas persatuan ekonomi Eropa, kendati Yunani telah sepakat untuk berhemat.
"Saat ini Uni Eropa dan terutama negara-negara yang dililit utang, tengah menghadapi dekade yang tersesat," ungkap investor miliarder George Soros, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (12/2/2012).
Menurutnya, kondisi Eropa yang tengah tertimpa krisis, bisa memakan waktu lebih dari satu dekade. "Jepang yang pernah mengalami kondisi serupa akibat membengkaknya bisnis perumahan dan krisis perbankan, tidak mengalami pertumbuhan selama 25 tahun," tuturnya.
"Itu akan menciptakan ketegangan dalam Uni Eropa, yang bisa menghancurkan Uni Eropa sendiri. Dan itu bahaya nyata." tambahnya.
Paket pemotongan anggaran, upah dan pensiun yang akan diterapkan parlemen Yunani, lanjut Soros, belum tentu akan berfungsi dalam jangka panjang. "Namun hal tersebut cukup menenangkan Anda dalam waktu enam bulan ke depan." ujarnya.
"Yunani adalah negara sakit yang telah 'salah penanganan' oleh otoritas Eropa dan akan terus menjadi iritasi dan masalah bagi Eropa," kata Soros.
Perdana Menteri Yunani Lucas Papademos kemarin menyetujui pemotongan anggaran yang dibutuhkan untuk mengamankan paket dana talangan kedua dari zona euro.
Sementara perekonomian di Amerika Serikat menunjukkan beberapa tanda-tanda kebangkitan. "Permasalahan yang Obama warisi, karena dia datang sesaat setelah krisis keuangan. Lebih besar dan tidak ada satu presiden pun yang mampu menuntaskannya dalam waktu singkat," tuturnya.
"Jadi siapapun yang akan terpilih nantinya, memiliki kesempatan yang lebih baik untuk lebih sukses dari Obama." tambahnya.
Soros mendukung sikap Obama yang menerapkan 'aturan' Warren Buffet yaitu semua orang yang pendapatannya lebih dari US$1 juta per tahun akan dikenakan pajak minimal 30%.
"Jika Anda bisa memiliki distribusi pendapatan yang lebih baik, maka Amerika sebenarnya memiliki peluang yang lebih baik. Namun hal tersebut tidak dapat diterima benar-benar secara politik," ungkap Soros.