INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (10/2) ditutup melemah 40 poin (0,44%) ke level 8.980/8.990 per dolar AS dari posisi kemarin 8.940-8.950.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, sejauh ini, pelemahan rupiah masih bersifat profit taking biasa. Sebab, Bank Indonesia kemarin menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin ke level 5,75%.
Di sisi lain, lanjutnya, euforia optimisme atas bailout Yunani juga berkurang setelah pertemuan para menteri keuangan zona euro semalam tidak mengumumkan pencairan dana bailout untuk Yunani. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah mencapai level terlemahnya 9.000 dan terkuatnya 8.970 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (10/2).
Padahal sebelumnya, lanjut Firman, para pemimpin politik Athena setuju melakukan reformasi anggaran. "Tapi, saat Eropa belum yakin untuk mengucurkan bailout-nya, Athena justru diminta oleh Presiden Euro Group Jean-Claude Juncker untuk menambah nilai pemangkasan anggarannya sebesar 325 juta euro dari target sebelumnya 3,3 miliar," paparnya.
Parlemen Yunani, lanjut Firman, diminta segera melegalisasi kebijakan penghematan. Selain itu, Juncker juga meminta komitmen tertulis dari partai politik bahwa Athena akan tetap menjalankan pemangkasan anggaran. "Terlepas partai mana yang akan memenangkan pemilu pada April mendatang," timpalnya.
Karena itu, firman menegaskan, euforia atas kucuran bailout Yunani berkurang. Pada saat yang sama, International Monetary Fund (IMF) juga punya permintaan serupa. "IMF meminta Yunani untuk menunjukkan tindakan yang lebih agresif lagi soal pemangkasan anggaran," tandas Firman.
Karena itu, kata dia, investor menghadapi risiko ketidakpastian terutama jika Parlemen Yunani tidak meloloskan kesepakatan yang sudah disetujui oleh para pimpinan partai politik. "Parlemen Yunani akan melakukan voting pada Minggu (12/2)," ucap dia.
Seharusnya, lanjut Firman, penghematan anggaran yang sudah disetujui para pimpinan partai politik, dapat diloloskan oleh Parlemen mengingat risikonya yang sangat besar. "Tapi, penundaan ini membuat pasar mencari alasan untuk profit taking sehingga mengganggu performa euro dan berimbas negatif ke rupiah," imbuhnya.
Alhasil, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS naik ke 78,741 dari sebelumnya 78,566. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3251 dari sebelumnya US$1,3282 per euro," imbuh Firman.