INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (9/2) ditutup melemah 70 (0,78%) ke level 8.940-8.950 per dolar AS dari posisi kemarin 8.870/8.880.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah hari ini, salah satunya dipicu oleh pemangkasan BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 5,75% hari ini oleh Bank Indonesia. Ini jadi pemicu utama pelemahan rupiah.
Di sisi lain, lanjutnya, rupiah juga mendapat tekanan dari faktor eksternal seiring ketidakpastian bailout Yunani. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah rupiah mencapai level terlemahnya 8.982 dan 8.890 sebagai level terkuatnya dari posisi pembukaan 8.900 per dolar AS,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (9/2).
Sejauh ini, lanjut Firman, masih belum jelas apakah Yunani bisa mengamankan pengucuran bailout meskipun ada harapan pada akhirnya akan diberikan. "Padahal, terakhir, para pemimpin partai politik di Yunani sepakat untuk melanjutkan penghematan lebih lanjut sehingga bisa menghasilkan penghematan anggaran sebesar 3,3 miliar euro," ucapnya.
Nereka menyetujui beberapa hal termasuk penghapusan gaji ke-13 dan 14 dan mereformasi sektor tenaga kerjanya. Tapi, Yunani masih enggan untuk memangkas dana pensiunnya. "Karena itu, pasar cemas apakah itu cukup membuat petinggi Eropa senang dan mau memberikan dana bailout-nya," timpal Firman.
Sekarang, kata dia, penghematan baru 90% karena dana pensiun tidak dipangkas. "Pasar baru optimis jika penghematan mencapai 100%," imbuhnya.
Alhasil, dolar AS melamh terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS turun ke level 78,470 dari sebelumnya 78,61. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,392 dari sebelumnya US$1,3259 per euro," imbuh Firman.