Kamis, 17 Mei 2012 | 05:27 WIB
Follow Us: Facebook twitter
ASII, BBRI dan BMRI Bikin IHSG 'Tak Bahagia'
Headline
inilah.com/Dok
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Kamis, 9 Februari 2012 | 16:12 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Indeks regional tetap dinilai tidak memberikan sinyal negatif karena masih berada di area support. Tapi, saham big caps utama membuat market tak bahagia.

Pada perdagangan Kamis (9/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 9,71 poin (0,24%) ke level 3.978,988 dengan intraday tertinggi 3.988,59 dan terendah 3.953,817. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang turun 2,47poin (0,35%) ke angka 694,471.

Laju indeks hari ini cukup ramai, didukung oleh volume transaksi yang tercatat mencapai 3,1 miliar lembar saham di pasar reguler dan total mencapai 3,8 miliar. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp 4,7 triliun di pasar regular dari total Rp5,06 triliun dan frekuensi 133.626 kali transaksi.

Sebanyak 109 saham menguat, sedangkan 130 saham melemah dan 98 saham stagnan. Pelemahan indeks, juga diwarnai aksi jual dari investor asing yang mencatatkan transaksi nilai beli bersih (net foreign sell) sebesar Rp419,6 miliar. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp2,5 triliun sedangkan transaksi jual sebesar Rp3,01 triliun.

Pergerakan sektor saham variatif. Saham sektor aneka industri memimpin pelemahan 2,10%, disusul sektor keuangan yang turun 0,85%, perdagangan 0,63%, pertambangan 0,43%, dan manufaktur 0,07%. Sementara itu, saham sektor perkebunan menguat 1,55%, konsumsi 1,22%, industri dasar 0,61%, properti 0,55%, dan infrastruktur 0,26%.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, pada indeks regional,masih saja, tidak didapatisignal negatif. Hang Seng Index (HSI) memang turun, tapi masih jauh diatas support20.750. “Dow Jones Futures juga terkoreksi, tapi tidak signifikan,” katanya di Jakarta, Kamis (9/2).

Menurutnya, IHSG terakhir running di 3.960 – 3.965sehingga penutupanindeks diatas 3.970(support pertama) jadi memungkinkan. “Saham-saham big caps ‘yang lain’ seperti PT Indo Tambang Raya (ITMG), PT United Tractor (UNTR), dan INTP kemungkinan masih bakal ditutup diatas support. GGRM bahkan bisa memberikan signal positif kalau ditutup diatas resisten pertama 56.300,” ujarnya.

Satrio menegaskan, yang membuat pelaku pasar tidak bahagiasaat ini adalah PT Astra Internasional (ASII)masih terus mengalamitekanan jual, meskipun juga posisinya terakhir sudah disekitar suport kedua di Rp72.500. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berada terlalu jauh dari supportpertamanya Rp7.050. “BMRI bakal memberikan signal negatif jika gagal tutup di Rp6.350 atau lebih,” imbuhnya.

Pertanyaanya, menurut dia, apakah kedepan IHSG bakal dijaga oleh saham-saham sektor konsumsi, batubara, dan semen, sementara saham big caps utama (ASII, BBRI, BMRI) masih melanjutkan koreksinya. “Terus terang, keadaan seperti ini sebenarnya sangat jarang dan sulit juga untuk berlangsung di bursa kita. Tapi namanya juga market, kita lihat deh kedepannya seperti apa,” ucapnya.

Menurutnya, saham-saham yang menjual produknya di dalam negeri seperti PT Gudang Garam (GGRM), PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), INTP dan PT Unilever Indonesia (UNVR) memang terlihat menarik. “Tapi, saya belinya besok saja deh. Kalau saham-saham itu sudah menunjukkan tanda-tanda reversal dengan menembus resisten,” imbuhnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.