Kamis, 17 Mei 2012 | 05:26 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sektor Batubara Akan Berbalik Arah?
Headline
inilah.com/Nury Sybli
Oleh: Th. Asteria
pasarmodal - Kamis, 9 Februari 2012 | 14:54 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta- Bursa saham domestik masih saja memerah. Namun, beberapa analis memprediksikan saham sektor batubara dapat berbalik arah. Benarkah?

Akhmad Nurcahyadi, analis dari BNI Securities mengatakan, saham-saham pertambangan batubara masih berpotensi berbalik arah dan lanjutkan kenaikan harga. “Hal ini dipicu harga batubara yang mulai naik, seiring dengan gangguan pasokan dari Australia akibat banjir yang meluas,”ujarnya kepada INILAH.COM.

Namun, imbuhnya, kenaikan harga batubara belum akan sepesat naiknya komoditas emas atau minyak mentah. Karena permintaan dari dua negara besar konsumen batubara, yakni China dan India yang belum naik. “Keduanya belum masuk ke pasar spot, masih menggunakan batubara restocking dalam negeri,”ujarnya.

Di tengah situasi ini, Akhmad merekomendasikan saham Harum Energy (HRUM) dan Adaro Energy (ADRO),”Kedua emiten ini masih memiliki potensi untuk menguat,”katanya.

Sedangkan Yuganur Widjanarko dari HD Capital Securities merekomendasikan saham batubara Bumi Resources (BUMI). Menurutnya, pascakoreksi yang sangat tajam dalam 3 hari terakhir, emiten ini menguji support low bulanan di Rp2.400.

Namun, kegagalan untuk mencetak level terendah baru lagi kemarin, memberikan sinyal potensi technical rebound dapat terjadi untuk mengetes kembali moving average 200 hari di Rp2.650. “Rekomendasi beli dengan target harga di Rp2.650,”ujarnya.

Yualdo Yudoprawiro dari Samuel Sekuritas juga merekomendasikan BUMI, karena emiten ini mendapatkan pinjaman senilai US$600 juta dari China Development Bank Corporation. Selain perkiraan bahwa penjualan tahun ini akan meningkat,”Kami rekomendasikan beli untuk emiten ini,”ujarnya.

Pinjaman bertenor 4 tahun dengan bunga LIBOR+6.7% itu telah ditandatangani pada 6 Februari 2012. Adapun Bank of China Limited cabang Jakarta bertindak sebagai agen fasilitas (facility agent).

Pinjaman tersebut sedianya akan digunakan untuk membayar (refinancing) pinjaman jangka pendek dari Bank of America Merrill Lynch, Barclays, dan JP Morgan yang sebelumnya digunakan untuk refinancing tranche I kepada China Investment Corporation (CIC) sebesar US$600 juta.

Selanjutnya, perseroan akan mempercepat pembayaran tranche II sebesar US$600 juta pada 4Q12 dan tranche III US$700 juta pada 2013.

Faktor positif lain adalah perkiraan BUMI, bahwa pada 2011, volume penjualan dapat mencapai 66 juta ton, naik 10% YoY. Sementara tahun ini perseroan menargetkan penjualan dapat mencapai 75 juta ton. Manajemen BUMI juga berniat menurunkan beban bunga dari 14% menjadi 8% sehingga dapat menghemat sekitar US$300 juta per tahun. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.