Kamis, 17 Mei 2012 | 05:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Rekomendasi Sesi Dua
Warning untuk Saham-saham Grup Bakrie
Headline
inilah.com/Dok
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Kamis, 9 Februari 2012 | 12:04 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Dow Jones dan Hang Seng tak memberikan sinyal bearish bagi IHSG. Tapi, dengan koreksi saham ASII, sulit bagi indeks untuk bergerak positif. Waspadai saham-saham grup Bakrie.

Pada sesi pertama perdagangan Kamis (9/2/2012), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 33,49 poin (0,84%) ke level 3.955,206. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 yang turun 6,90 poin (0,99%) ke angka 690,045.

Laju indeks siang ini cukup ramai, didukung oleh volume transaksi yang tercatat mencapai 1,3 miliar lembar saham di pasar reguler dan total mencapai 1,7 miliar. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp2,06 triliun di pasar regular dari total Rp2,2 triliun dan frekuensi 66.234 kali. Sebanyak 64 saham menguat, sedangkan 152 saham melemah dan 85 saham stagnan.

Pelemahan indeks, juga diwarnai aksi jual dari investor asing yang mencatatkan transaksi nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp281,1 miliar. Rinciannya, transaksi beli mencapai Rp1,1 triliun sedangkan transaksi jual sebesar Rp1,4 triliun.

Mayoritas sektor saham mendukung pelemahan indeks. Sektor aneka industri memimpin pelemahan 2,64%, disusul sektor pertambangan 1,07%, perdagangan 1,04%, manufaktur 0,90%, properti 0,84%, keuangan 0,83%, infrastruktur 0,61%, dan industri dasar 0,50%. Hanya sektor perkebunan yang naik 0,40% dan konsumsi 0,33%.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, indeks Dow Jones Industrial masih bergerak naik, meski hanya tipis 0.04%. Sementara itu, Hang Seng Index (HSI) masih di atas support 20.750.

Dow Futures juga hanya turun di bawah 0,5%, belum signifikan dan belum ada signal bearish-nya. “IHSG juga kemarin ditutup dengan signal positif, di atas resisten 3.986. Belum ada signal negatif,” katanya di Jakarta, Kamis (9/2).

Yang membuatnya galau, menurut Satrio, adalah posisi penutupan dari PT Astra Internasional (ASII) yang kemarin gagal bertahan di atas suport di kisaran gap Rp75.000-75.950. “Jika ASII tidak kembali di atas Rp75.000 hari ini, berarti support gap tersebut ditembus,” ucapnya.

Karena itu, potensi penurunannya adalah hingga retracement 50%, mungkin tidak masalah hanya sampai Rp74.000. “Tapi kalau sampai target wedge yang dikejar, tenaga koreksinya bisa sampai Rp67.500-68.500. Dengan potensi penurunan ASII hingga sebesar itu, sulit bagi IHSG untuk naik hari ini,” papar Satrio.

Dia menjelaskan, IHSG kemarin tutup di atas resistance 3.986. Signalnya positif. Kisaran IHSG hari ini ada di 3.970-4.000. “Masalah baru terjadi jika suport di 3.970 tidak bisa bertahan untuk hari ini. Karena itu berarti bahwa trend dari IHSG, memang masih berupa trend turun untuk jangka pendeknya,” paparnya.

Peringatan juga, lanjut Satrio, warning masih kami berikan pada saham-saham kelompok Bakrie. BUMI memang tertahan di kisaran flat Rp2.425 – 2.625. “Jika suport 2.425 gagal bertahan, BUMI bakal memiliki potensi koreksi hingga Rp2.200-2.300. “Potensi koreksi yang terdapat pada saham ASII yang saya bahas tadi, memang menandakan bahwa badai mulai terlihat di cakrawala. Kita harus waspada agar tidak ditelan di dalamnya,” ucapnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.