Kamis, 17 Mei 2012 | 05:10 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Big Caps Utama Tahan Laju IHSG
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Rabu, 8 Februari 2012 | 16:13 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – IHSG sukses naik seiring tren positif bursa regional sehingga berhasil tutup di atas resistance pertama 3.986. Sayangnya, saham big caps tak mendukung.

Pada perdagangan Rabu (8/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup naik 33,247 poin (0,84%) ke 3.988,699. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45 yang naik 0,97% ke 696,95.

Sektor perdagangan memimpin penguatan dengan naik 2,06%, diikuti sektor pertambangan naik 1,4% dan sektor industri dasar 1,26%.Sebanyak 171 saham naik, 91 saham stagnan, dan 79 saham turun. Nilai transaksi pada perdagangan hari ini tercatat mencapai Rp5,73 triliun, dengan volume 3,491 miliar lembar saham. Investor asing masih melanjutkan aksi jual dengan net foreign sell Rp257,199 miliar.

Saham-saham yang masuk dalam kategori top gainers antara lain, saham Harum Energy (HRUM) naik Rp500 ke Rp8.150, saham United Tractors (UNTR) naik Rp1.300 ke Rp29.350, saham Indocement Tunggal Prakarasa (INTP) naik Rp750 ke Rp17.400, saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp300 ke Rp7.150, saham Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp500 ke Rp20.700, saham Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp200 ke Rp22.400.

Saham-saham yang masuk dalam kategori top losers diantaranya, saham Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) turun Rp500 ke Rp12.100, saham Bank Danamon (BDMN) turun Rp175 ke Rp4.650, saham Gudang Garam (GGRM) turun Rp800 ke Rp55.950, saham Astra International (ASII) turun Rp800 ke Rp74.850.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Hang Seng Index (HSI) ditutup di level 21.018 alias lebih tinggi dari level tertinggi Senin (6/2) pada level 21.015. “Signalnya masih positif. Regional masih berada dalam trend naik,” katanya di Jakarta, Rabu (8/2).

Hingga sore hari ini, lanjutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) masih ‘berjuang’ untuk bisa tutup di atas resistance pertama 3.986. “IHSG memang seharusnya bisa tutup di atas resisten tersebut, dalam posisi penutupan,” ujarnya.

Namun demikian, Satrio mengakui, IHSG sulit bergerak naik lebih jauh karena saham-saham big caps utama, yaitu PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Gudang Garam (GGRM), masih terus mengalami tekanan jual. “Trend naik yang baru terlihat pada saham-saham batubara, tapi karena kapitalisasinya kalah besar, kenaikan IHSG terlihat tertahan,” tandasnya.

Di atas semua itu, dia menegaskan, dengan situasi regional yang masih dalam trend naik, IHSG memang sulit bergerak turun. “Meskipun demikian, posisi-posisi spekulatif terlihat hanya menarik untuk dilakukan ketika market sedang berada dalam tekanan koreksi,” timpalnya.

Satrio sendiri, dengan situasi market yang sedang kuat begini, justru lebih tertarik untuk exit posisi. “Positioning pada saham GGRM dan ASII terlihat menarik untuk dilakukan, akan tetapi, dengan tekanan jual yang ada, akumulasi sebaiknya dilakukan dengan perlahan,” tandas Satrio.

Dia menjelaskan, koreksi yang terjadi kemarin, memang telah membuat ASII menembus trend turun jangka menengahnya. “Dengan retracement 50% di Rp74.000, sepertinya kita harus bersabar kalau mau akumulasi,” imbuhnya.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.