INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan IHSG, Rabu (8/2) diprediksi melemah. Faktor teknis pemisahan rekening efek dan MKBD dinilai jadi pemicunya. Tapi, tiga saham dapat rekomendasi positif.
Pada perdagangan Selasa (7/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 19,34 poin (0,49%) ke level 3.955,452 dengan intraday tertinggi 3.986,37 dan terendah 3.929,637. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 3,60 poin (0,52%) ke level 690,232.
Analis dari Asosiasi Ananlis Efek Indonesia (AAEI) Ukie Jaya Mahendra mengatakan, indeks saham domestik melemah dalam dua hari terakhir. Padahal, bursa regional pun tidak menunjukkan sinyal bearish. “Rabu ini, IHSG berpeluang melemah terbatas, dengan support 3.900 dan resistance kuat masih di level 4.000,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (7/2).
Menurutnya, pelemahan indeks dipicu oleh masalah teknis yakni pemisahan rekening nasabah dengan perusahaan efek. Hal ini berpengauh pada berkurangnya Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD)broker-broker. Aturan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) itu berlaku per 1 Februari 2012.
Menurut Ukie, faktor ini memicu sebagian nasabah untuk forced sell seiring perubahan margin dan sebagainya. Itulah yang membuat market bergerak minus dalam dua hari terakhir. “Nasabah hanya bisa melakukan aksi jual tapi tidak bisa melakukan pembelian saham sampai pemisahan rekening itu settle,” ujarnya.
Ukie menegaskan, dari sisi ini saja, tekanan jual IHSG lebih besar daripada tekanan beli. Ini berpengaruh signifikan pada pergerakan IHSG. Apalagi, kebijakan pemisahan rekening efek ini mengubah MKBD masing-masing sekuritas. “Setelah rekening dipisahkan, dana nasabah tidak bisa digunakan untuk MKBD Securitas,” papar Ukie.
Sekarang, Ukie menegaskan, aset nasabah terpisah dengan sekuritas. Padahal, penentuan MKBD sebelumnya lebih fleksibel dibandingkan sekarang. “Pemisahan dana nasabah dengan sekuritas lebih jelas. Memang, dari sisi MKBD tidak mengganggu pergerakan saham, tapi ada MKBD yang harus di-settle,” ucapnya. Itulah faktor utama yang membawa pelemahan IHSG.
Hal ini terbukti, kata dia, dengan koreksi tajam IHSG di tengah bursa regional yang tidak mengalami banyak perubahan (mixed). “Jadi, indeks lebih dipicu faktor teknis internal dalam negeri,” timpal Ukie.
Selebihnya, pelemahan indeks juga dipicu oleh pergerakan IHSG yang sejak awal tahun menunjukkan kenaikan. Indeks juga mendapat tekanan negatif dari koreksi saham-saham bluechip di sektor perbakan terutama PT Bank Mandiri dan PT Bank Negara Indoensia (BBNI) yang terimbas negatif akibat gagal bayarnya (default) obligasi PT Berlian Laju Tanker (BLTA).
Ukie menjelaskan, karena kapitalisasi market kedua bank tersebut besar, berimbas negatif bagi IHSG secara keseluruhan. Apalagi, kemarin net sell asing cukup besar mecapai Rp600 miliar. “Tapi, trend IHSG saat ini tetap masih bullish,” imbuhnya.
Di atas semua itu, Ukie melihat peluang pada saham di sektor properti PT Bumi Serpong Damai (BSDE) dengan target jangka pendek Rp1.200 yang menurutnya, bisa dicapai akhir pekan ini;
Lalu, PT Indika Energy (INDY) yang berpeluang technical rebound dengan target terdekatnya Rp2.500. Potensi technical rebound juga pada saham PT Bank Mandiri (BMRI) dengan target Rp6.600 dalam jangka pendek.
Dia merekomendasikan akumulasi beli saham-saham tersebut dengan pola buy on weakness untuk jangka menengah 3-6 bulan atau di atas 1 tahun untuk jangka panjang. “Sebab, tren bullish IHSG masih kuat. Investor jangan khawatir,” imbuhnya.