INILAH.COM, Jakarta – Selain faktor teknikal, pelemahan IHSG juga di-trigger oleh saham perbankan yang terdampak negatif penurunan yield obligasi. Tapi, saham sektor perbankan kini sudah bisa dilirik.
Pada perdagangan Senin (6/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG
) ditutup melemah 41,16 poin (1,02%) ke level 3.974,788 dengan intraday tertinggi 4.040,082 dan terendah 3.957,548. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45
yang turun 9,30 poin (1,32%) ke level 693,827.
Vice President dan Senior Technical Analyst PT Samuel Securities Muhammad Alfatih memperkirakan, indeks saham domestik bakal melemah dalam jangka pendek. “Secara teknikal, tren jangka IHSG berpotensi melemah lebih lanjut ke level 3.940 hingga 3.870 dalam tujuh hari ke depan. Sedangkan resistance indeks berada di level 4.020,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (6/2).
Apalagi, lanjutnya, penguatan IHSG yang terjadi belakangan ini juga sudah mentok pada level 4.040 sebagai level jenuh beli (overbought) sehingga pasar melakukan profit taking. “Karena itu, wajar jika koreksi indeks berkelanjutan, pasar akan melakukan aksi jual terlebih dahulu,” ujarnya.
Selain itu, kata Alfatih, pelamahan IHSG juga di-trigger oleh saham-saham di sektor keuangan terutama perbankan.Menurutnya, saham perbankan, mendapat sentiment negatif dari suku bunga obligasi pemerintah Indonesia yang terus mengalami penurunan. “Kondisi ini terjadi setelah peringkat utang Indonesia mencapai gelar Investment Grade dari Fitch Rating dan Moody's Investor Service,” papar Alfatih.
Padahal, kata dia, perbankan punya banyak posisi yang cukup besar pada obligasi negara. “Itulah yang jadi alasan mengapa saham-saham sektor perbankan mengalami penurunan dan jadi tenakan yang berarti bagi IHSG. Sebab, nilai obligasi yang dipegang perbankan mengalami penurunan,” timpalnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, emiten PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Negara Indoensia (BBNI) memengang obligasi pemerintah terbesar.Bank Mandiri sebesar Rp75,5 triliun,BNI Rp15,6 triliun, PT Bank Central Asia (BBCA) Rp9,8 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp4 triliun.
Sedangkan kontrubisi variable-nya terhadap earning asset, Bank Mandiri sebesar 8,5%, BNI 6,9% dan BCA sebesar 3,2%. Sementara itu, perbankan juga punya kasus obligasi korporasi yang default (gagal bayar) PT Berlian Laju Tanker (BLTA). “Antara lain, Mandiri sebesar Rp500 miliar, BCA Rp500 miliar dan BNI Rp290 miliar,” imbuhnya.
Karena itu, Alfatih menegaskan, selain perbankan bermasalah dengan obligasi negara, bank juga terdampak negatif oleh BLTA yang gagal bayar. “Karena itu, perbanakan mendapat serangan negatif dari obligasi negara dan obligasi BLTA. Masalah utang sangat sensitive terhadap sentiment pada saham-saham sektor perbankan,” timpal Alfatih.
Dari eksternal, lanjutanya, pasar masih mencemaskan Yunani yang belum menerima syarat-syarat dari Uni Eropa untuk mendapatkan bailout. “Karena itu, pasar juga khawatir Yunani akan gagal bayar,” tuturnya.
Dalam situasi ini, Alfatih menyarankan, selama potensi koreksi masih ada, lebih baik merealisasikan keuntungan untuk jangka pendek. Apalagi, beberapa saham sudah mengalami kenaikan cukup tinggi. “Karena itu, kalaupun mau mengambil posisi, harus untuk horizon yang lebih panjang. Sebab, IHSG dalam jangka panjang masih bullish,” ucap dia.
Untuk jangka panjang,menurutnya, saat ini bisa masuk pada saham-saham perbankan. “Sebab, saat IHSG balik arah menguat, saham-saham bank akan mengalami titik balik menguat terlebih dahulu dibandingkan sektor lain,” imbuh Alfatih.