Find and Follow Us

Sabtu, 23 November 2019 | 03:20 WIB

Market Positif Respons Payrolls AS & Eropa

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 6 Januari 2012 | 18:11 WIB
Market Positif Respons Payrolls AS & Eropa
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG melemah tapi rupiah menguat. Pasar mengantisipasi positif rilisnya data non-farm payroll AS malam ini dan rencana pertemuan Jerman-Perancis-Italia awal pekan depan.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh intervensi Bank Indonesia (BI) yang dominan. Hal ini, kata dia, tampak dari penguatan yang hanya terjadi 1 jam jelang penutupan.

Di sisi lain, lanjut Firman, penguatan rupiah juga dipicu profit taking dolar AS oleh pasar mengantisipasi positif rilis data non-farm payrolls AS nanti malam. "Karena itu, rupiah ditutup pada level terkuatnya 9.090 dan 9.160 sebagai level terlemahnya dari posisi pembukaan 9.150 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (6/1).

Kurs rupiah $ di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (6/1) ditutup menguat 20 (0,21%) ke level 9.090/9.110 per dolar AS dari posisi kemarin 9.110/9.120.

Lebih jauh Firman menjelaskan, non-farm payrolls sudah diprediksi membaik. "Kondisi itu dilihat pasar bakal memberikan sentimen positif untuk bursa saham global dan berimbas positif bagi rupiah," timpalnya.

Sementara itu, lanjut Firman, perkembangan terakhir dari Eropa tidak begitu positif bagi market. Terutama, setelah hasil lelang obligasi Perancis menunjukkan kenaikan biaya pinjaman. "Kondisi ini, tentunya akan mencemaskan pasar tentang kemampuan pendanaan utang pemerintah di zona euro," ungkap Firman.

Yield obligasi Perancis naik dari 3,18% menjadi 3,29% untuk tenor 10 tahun. Begitu juga dengan yield obligasi dengan tenor 30 tahun yang naik dari 3,94% menjadi 3,97%.

Di lain pihak, penguatan rupiah juga karena pasar mengantisipasi positif rencana pertemuan Jerman, Perancis dan Italia, awal pekan depan. "Kemungkinan, mereka akan membahas perkembangan terakhir di zona euro dan progres dari reformasi fiskal Italia apakah sesuai dengan yang diinginkan Jerman dan Perancis atau tidak," tandasnya.

Alhasil, menurut Firman, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Indeks dolar AS melemah ke level 80,825 dari sebelumnya 80,936. "Tapi, pelemahan dolar AS bersifat sementara," timpalnya.

Pelemahan indeks dolar AS, jelas Firman, secara teknikal tampak adanya resitance yang cukup kuat pada level 81 sehingga terjadi profit taking. "Karena itu, setiap kali level tersebut dicapai, indeks dolar AS tidak bisa bertahan. Diperlukan penembusan 81,4 untuk kenaikan dolar AS lebih lanjut. Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke level US$1,2801 dari sebelumnya US$1,2786 per euro," imbuh Firman.

Dari bursa saham, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 36,85 poin (0,94%) ke level 3.869,415. Artinya, IHSG gagal ditutup di atas 3.890 yang berpotensi melemah sampai support berikutnya 3.825-3.850. "Potensi penurunan ada, tapi terbatas. Pada level-level itulah buy on weakness bisa dilakukan," imbuhnya. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x