Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 16 Desember 2017 | 06:44 WIB

Alfiansyah

Angkat Harga Saham Agar Lebih Mengesankan

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 28 Desember 2011 | 03:00 WIB
Angkat Harga Saham Agar Lebih Mengesankan
inilah.com/Dok
facebook twitter

NILAH.COM, Jakarta Mempercantik harga saham dinilai bukan hanya pada saham-saham yang terkoreksi dalam tapi juga yang sudah menguat. Tujuannya agar lebih mengesankan.

Kepala Riset Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, jika portofolio sudah menguat, para fund manager akan tetap mengangkat harga saham agar lebih mengesankan. Karena itu, saham-saham yang sudah naik pun bakal mengalami penguatan. Para pengelola investasi akan mempercantik tutup buku portofolio mereka alias window dressing.

Menurutnya, jika pertumbuhan portofolio 2011 kurang mengesankan, akan dipercantik dengan aksi beli dari para fund manager itu. "Di sisi lain, jika fundamental emiten 2011 cenderung mengalami pertumbuhan yang baik, saham-saham dalam kategori ini, juga akan jadi target window dressing," katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (27/12) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah tipis 7,73 poin (0,20%) ke level 3.789,425 dengan intraday tertinggi 3.806,185 dan terendah 3.757,531. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 ^JKLQ45 yang turun 1,37 poin (0,20%) ke level 670,015. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Kemarin, IHSG hanya melemah tipis. Pertanda apa?

Secara teknis, memang aktivitas transaksi berkurang jelang akhir tahun yang tinggal 3 hari perdagangan karena faktor libur. Karena itu, untuk mendapatkan cash, investor ritel sudah melakukan penjualan (cut of date) pada Selasa (27/12) kemarin untuk mendapatkan T+3 Settlement pada Jumat (30/12). Investor ritel profit taking.

Window dressing tak terjadi?

Profit taking itu justru jadi momentum bagi para pengelola investasi untuk mempercantik kinerja saham yang mereka pegang. Jika portofolio sudah menguat, mereka akan tetap mengangkat harga saham agar lebih mengesankan. Karena itu, saham-saham yang sudah naik pun bakal mengalami penguatan meskipun terbatas. Para pengelola investasi akan mempercantik tutup buku portofolio mereka alias window dressing.

Bagaimana dengan saham yang kinerjanya kurang mengesankan?

Jika pertumbuhan portofolio 2011 kurang mengesankan, akan dipercantik dengan aksi beli dari para fund manager itu. Di sisi lain, jika fundamental emiten 2011 cenderung mengalami pertumbuhan yang baik, saham-saham dalam kategori ini, akan jadi target window dressing. Secara historis, dalam lima tahun terakhir, IHSG cenderung positif dalam 2-7 hari terakhir perdagangan.

Hanya saja, untuk 2011 ini, kondisi eksternal tidak mendukung sehingga jadi kendala terjadinya window dressing.

Bagaimana dengan January effect?

Pada January Effect, pengelola dana juga mengalokasikan dana khusus untuk investasi karena faktor tahun baru. Mereka akan melakukan selective buying terhadap porofolio-portofolio untuk investasi 2012.

Apa yang jadi pertimbangan para fund manager?

Mereka akan mempertimbangkan kondisi industri emiten bersangkutan yakni industri mana yang akan memiliki prospeks positif pada 2012. Secara mikro, ekspektasi laporan keuangan juga jadi pertimbangan. Karena itu, selain berharap capital gain, mereka juga berekspektasi dividend yield pada emiten dengan prospek pertumbuhan laba yang besar. Karena itu, dividen yang mungkin didapat bisa lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan faktor makro ekonomi?

Justru itu, pertama-tama fund manager mempertimbangkan kondisi ekonomi Indonesia yang sudah mendapat gelar investment grade dari Fitch Ratings. Lalu, kemungkinan akan disusul dengan gelar yang sama dari Moodys Investor Service dan Standard & Poors Rating Serviece (S&P). Selain itu, mereka juga mempertimbangkan Produk Domestik Bruto (PDB) RI yang positif 2012 yang diproyeksikan pada level 6,7%.

Kalau begitu sektor saham apa yang bakal jadi pendongkrak utama IHSG saat window dressing dan January Effect?

PDB itu, bakal ditopang oleh sektor finansial terutama perbankan yang jadi penggerak ekonomi. Karena itu, saham-saham perbankan akan menjadi pilihan para fund manager sehingga memberikan multiplier effect ke sektor saham lain seperti properti, otomotif, konstruksi dan semen.

Mereka juga, berekspektasi, investment grade bisa memicu penurunan suku bunga sehingga kredit bakal naik. Ekspektasi itulah, yang mendorong menguatnya animo window dressing dan January Effect. Apalagi, dengan potensi aliran dana asing masih cukup terbuka sehingga prospek IHSG sangat positif pada 2012 seiring investment grade.

Apalagi, momentum window dressing dan January Effect juga bersamaan dengan peringkat Indonesia yang di-upgrade ke investment grade. Karena itu, kalaupun regional negatif, posisi IHSG masih terjaga dan kalaupun melemah dalam kisaran terbatas sehingga saat tutup tahun bakal mendarat pada teritori positif.

Faktor krisis utang Eropa bagaimana?

Kita tidak bisa mengesampingkan faktor eksternal yang negatif terutama soal krisis utang Uni Eropa sehingga bakal jadi kendala bagi IHSG. Sebab, laju IHSG seirama dengan pola pergerakan bursa lainnya.

Kalau begitu, di level berapa target IHSG akhir 2011 dan January Effect?

Hingga akhir 2011, saya perkirakan, IHSG akan menguji level 3.900 dengan level psikologis 4.000 dan support 3.700. Hanya saja, untuk mencapai 4.000, butuh sentiment yang luar biasa positif. Baru pada January Effect, target resistance IHSG di level 4.000 akan coba ditembus dengan support 3.677.

Saham sektor apa yang bakal mendukung penguatan indeks ke level tersebut?

Saham pendukung IHSG untuk mencapai level itu, akan diawali saham-saham di sektor perbankan terutama BUMN yang pertumbuhan labanya sangat positif seperti PT Bank Mandiri (BMRI.JK), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK), PT Bank Negara Indoensia (BBNI.JK), dan PT Bank Tabungan Negara (BBTN.JK).

Dilihat dari peringkatnya, bank-bank ini juga masuk 10 besar dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup kuat dan jadi sumber pendanaan utama Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang nilainya mencapai Rp1.700 triliun. Jika bank berfungsi jadi intermeditor, berpengaruh positif ke sektor lain seperti konsumsi. Antara lain, saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF.JK) dan PT Astra Internasional (ASII.JK).

Begitu juga dengan sektor konstruksi infrastruktur dan alat berat seperti PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP.JK), PT Wijaya Karya (WIKA.JK), PT Surya Semesta Internusa (SSIA.JK) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS.JK).

Di sektor alat berat, PT United Tractor (UNTR.JK) dan PT Intraco Penta (INTA.JK) yang secara valuasi cukup atraktif. Lalu sektor semen. Meski secara valuasi sudah merefleksikan performanya, tapi masih sesuai ekspektasi (belum di atas ekspektasi) seperti PT Indocement Tunggal Prakasa (INTP.JK) dan PT Semen Gresik (SMGR.JK).

Untuk properti, seiring peluang penurunan suku bunga setelah investment grade, saham sektor ini menarik seperti PT Alam Sutera Realty (ASRI.JK), PT Ciputra Surya (CTRS.JK) dan PT Bakrieland Development (ELTY.JK) yang cukup likuid dan valuasinya atraktif.

Apa rekomendasi Anda untuk saham-saham tersebut?

Saya rekomendasikan buy semua tersebut untuk jangka panjang. Tapi, untuk jangka pendek pun menarik dengan tetap melakukan pola-pola trading. Sebab, itulah saham-saham yang berpeluang besar terimbas positif window dressing dan akan jadi pilihan saat January effect 2012.

Komentar

 
Embed Widget

x