Find and Follow Us

Senin, 27 Januari 2020 | 07:32 WIB

Inilah Saham Prospektif Sepekan ke Depan

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 11 Desember 2011 | 15:00 WIB
Inilah Saham Prospektif Sepekan ke Depan
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Laju IHSG sepekan ke depan, sangat ditentukan oleh respon pasar pada hasil KTT Eropa. Rekomendasi, saham-saham prospektif di sektor konsumsi, energi dan perkebunan.

Pada perdagangan Jumat (9/12), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup melemah 22,15 poin (0,59%) ke level 3.759,609 dengan intraday tertinggi 3.781,027 dan terendah 3.728,734. Begitu juga indeks saham unggulan LQ45 ^JKLQ45 yang turun 4,88 poin (0,73%) ke angka 663,457.

Kepala Riset Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, jika hasil KTT Uni Eropa Jumat (9/12) memberikan harapan atau angin segar ke pasar, bisa memberikan kepercayaan untuk masuk di bursa saham. Dalam KTT akhir pekan lalu, 26 negara Eropa menyetujui terobosan baru dalam integrasi fiskal.

Usulan itu, hanya ditolak oleh Inggris, yang tidak termasuk Uni Eropa. Para pemimpin Eropa menyepakati aturan anggaran ketat dalam pertemuan puncak tersebut. Namun, di sisi lain, KTT telah gagal menyetujui perubahan mekanisme bailout.

Mereka juga memutuskan untuk mekanisme European Financial Stability Facility (EFSF) sebagai dana bailout permanen yang berlaku pada Juli 2012 dan 2013. Nilainya mencapai 500 miliar euro atau setara dengan US$666 miliar. "Ini yang jadi penentuan arah indeks sepekan ke depan selain data mingguan yang dirilis di AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan.

Sementara itu, lanjutnya, fokus pasar pada faktor internal masih minim. Pasar sepenuhnya fokus pada faktor eksternal khususnya Eropa.

Sebelum KTT disepakati, lanjut Alfiansyah, ada beberapa hal yang tidak dikehendaki pasar. Di antaranya, Jerman yang menolak untuk melakukan penerbitan obligasi bersama. Jerman juga menolak rancangan rencana kenaikan kapasitas dana The European Financial Stability Facility (EFSF).

Pada saat yang sama, kata dia, European Central Bank (ECB) memberikan indikasi, tidak akan melakukan pembelian obligasi Eurozone dalam skala besar. Ini juga yang dicermati negatif oleh pelaku pasar. "Jika hasil KTT direspon positif, IHSG akan terangkat. Tapi, jika pasar menganggap belum ada suatu kepastian atau hasil KTT kurang dikehendaki pasar, akan semakin negatif bagi market," ungkap dia.

Sinyal sejauh ini, lanjutnya, hasil KTT memang mengecewakan pasar. Jika sinyal negatif itu tidak mengalami perubahan, harapan pasar satu-satunya tertuju pada rencana bantuan likuiditas dolar AS bagi perbankan di Eropa. Bantuan itu berasal dari 6 bank sentral utama dunia (Bank Sentral Kanada, European Central Bank (ECB), Bank of Japan (BoJ), Swiss National Bank (SNB), Peoples Bank of China (PBoC) yang dikoordinasikan oleh Bank Sentral AS The Fed.

Pasalnya, menurut dia, yang dibutuhkan oleh Eropa saat ini adalah masalah likuiditas dan kebutuhan jangka pendek untuk utang-utang yang jatuh tempo. "Eropa harus melakukan pendekatan terhadap China, Jepang, untuk memberikan bantuan atau andil sehingga menyejukkan kecemasan pasar," timpalnya.

Di sisi lain, lanjutnya, ada rumor, AS akan memberikan bantuan melalui International Monetary Fund (IMF). Tapi, ini sudah dibantah oleh Menteri Keuangan AS Timothy Geithner. "Jadi, tampak, baik AS, China, dan Jepang masih hati-hati untuk memberikan bantuan ke Uni Eropa," tuturnya.

Mereka, kata dia, justru ingin melihat keseriusan Uni Eropa sendiri dalam menyelesaikan krisis utangnya yang hingga saat ini belum dijawab oleh pihak UE. "Jadi secara umum, pasar masih mencerna apakah keputusan KTT Uni Eropa mengarah pada penyelesaian krisis atau sebaliknya.

Berbagai negara pun, lanjutnya, terutama yang bakal memberikan bantuan ke UE, masih fokus pada hasil KTT ini. Yang paling dicemaskan pasar adalah pantauan dari lembaga pemeringkat. "Ancaman down grade dari lembaga pemeringkat akan jadi kendala market," ucap.

Apalagi, pada Jumat (9/12), ada tiga di Perancis yang dipangkas peringkatnya: BNP Paribas, Societe Generale, dan Credit Agricole. Sebelumnya, lembaga pemeringkat Standard & Poors Rating Service (S&P) sudah mengkaji down grade 17 negara Uni Eropa termasuk Jerman dan Perancis. "Hasil KTT Eropa dan ancaman dari lembaga pemeringkat jadi kecemasan pasar," timpalnya.

Dalam sepekan ke depan, menurutnya, support IHSG di level 3.621 dan taget resistance 3.810. Alfiansyah merekomendasikan saham, yang industrinya masih prospektif di akhir tahun dengan demand yang meningkat. "Seperti konsumsi, energy baik minyak maupun batu bara dan perkebunan seiring Eropa yang masih memberi tekanan negatif," ucapnya.

Saham-saham pilihan adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP.JK), PT Mayora Indah (MYOR.JK), PT Indofood Sukses Makmur (INDF.JK) dan PT Unilever Indonesia (UNVR.JK).

Lalu, PT Medco Energi (MEDC.JK), PT Adaro Energy (ADRO.JK), PT Bukit Asam (PTBA.JK). PT London Sumatera Plantation (LSIP.JK), PT Astra Agro Lestari (AALI.JK) dan PT Sampoerna Agro (SGRO.JK). "Saya rekomendasikan buy on weakness saham-saham tersebut dengan pola beli di level mendekati support," imbuhnya.

Komentar

x