Kamis, 2 Oktober 2014 | 13:26 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Analis: Likuiditas Saham VIVA Bakal Turun
Headline
IST
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
pasarmodal - Minggu, 27 November 2011 | 17:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Likuiditas saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) diperkirakan hanya akan mampu bertahan dalam dua pekan, sejak penawaran perdana yang dilakukan awal pekan lalu.

Pangamat pasar modal Irwan Ibrahim menyatakan bahwa pemilihan momentum VIVA yang mencatatkan sahamnya di tengah krisis yang masih berlanjut, tidak terlalu berpengaruh.

Namun ia mengakui, saat ini para investor lebih fokus pada saham-saham sektor pertambangan dan perkebunan. Di sisi lain, dari segi bisnis, industri media kurang diminati karena modal yang dikeluarkan besar namun margin yang dihasilkan kecil.

Ia menilai, saham VIVA adalah tipe saham yang bergerak fluktuatif. Namun sesudah dua pekan pencatatan di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI), likuiditas saham ini diprediksi merosot. "Investor ritel bisa spekulasi karena sahamnya yang bergerak fluktuatif," ujarnya kepada INILAH.COM di Jakarta.

"Namun sesudah dua minggu (sesudah IPO) saham VIVA tidak akan likuid lagi di market," tandasnya. Pada perdagangan akhir pekan lalu, saham VIVA ditutup turun Rp5 ke Rp495.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.