Find and Follow Us

Sabtu, 23 November 2019 | 03:18 WIB

Irwan Ibrahim

Saham VIVA Menarik untuk Jangka Menengah

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 31 Oktober 2011 | 03:26 WIB
Saham VIVA Menarik untuk Jangka Menengah
Irwan Ibrahim - inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Harga IPO saham VIVA di level Rp280-305 dinilai murah. Tapi, rata-rata saham sektor media massa kurang likuid. Karena itu, saham ini menarik hanya untuk jangka menengah.

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim menilai, dilihat dari harga penawaran yang murah, sasaran saham VIVA adalah investor kelas menengah-ritel. Sedangkan investor menengah atas, hanya memilih saham ini untuk investasi jangka panjang.

Karena itu, Irwan memperkirakan, pergerakan saham ini bakal fluktuatif tajam pascalisting. "Karena itu, saya rekomendasikan untuk investasi jangka menengah di saham ini. Jika ingin trading jangka pendek, lebih baik menunggu listing, pada 16 November 2011. Secara historis, rally saham-saham sektor media masa terjadi dua pekan setelah listing," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Asal tahu saja, PT Visi Media Asia (VIVA.JK), perusahaan yang bergerak di bidang industri media massa, memberikan kisaran harga penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada level Rp280-305 per saham.Induk perusahaan VIVAnews.com, tvOne, dan antv itu berharap sudah bisa mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia pada 16 November 2011.Berikut ini wawancara lengkapnya:

Saham VIVA akan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 November 2011. Bagaimana prospek harga sahamnya?

VIVA memiliki dotcom (Vivanews.com) dan televisi (TVOne dan ANTV). Tapi, saham ini tidak sebanding jika dibandingkan dengan grup MNC yakni PT Media Nusantara Citra (MNCN.JK). Hanya saja, saham perdana VIVA yang ditawarkan di level Rp280-305 per saham merupakan angka yang murah sehingga investor akan tertarik. Sebab, harga MNCN saat ini di level Rp1.090 per saham sedangkan harga VIVA jauh di bawah.

Lalu, tipe investor seperti apa yang jadi sasaran saham VIVA?

Kelihatannya, VIVA akan menyasar investor menengah ke bawah atau ritel. Sementara itu, investor menengah-atas, bakal memilih saham ini hanya untuk investasi jangka panjang.

Kalau begitu, bagaimana prospek harga sahamnya?

Jika sasaran investornya seperti itu, pasca-listing, harga sahamnya berpeluang fluktuatif, bisa naik tajam atau turun tajam. Itulah, tipikal khusus jika harga sahamnya murah dengan target investor menengah bawah. Apalagi, VIVA merupakan grup Bakrie yang secara kinerja sahamnya saat ini sedang melandai.

Saham yang menjadi andalan grup Bakrie hanya saham tambangnya yakni PT Bumi Resources (BUMI.JK). Tapi, dengan harga VIVA di level Rp280-305 menarik untuk dibeli terutama untuk investor jangka menengah (enam bulan hingga setahun ke depan).

Peluang penguatan saham VIVA?

Jika IPO di level Rp280, saham VIVA bisa menembus Rp305 dan menuju Rp350 dalam jangka menengah. Apalagi, dengan momentum market yang positif bagi saham-saham grup Bakrie lainnya setelah melandai belakangan ini.

Bagaimana dengan trader jangka pendek?

Untuk investor jangka pendek, lebih baik memilih saham-saham yang sudah ada. Apalagi, rata-rata saham sektor media tidak likuid. Sebab, investor juga masih awam untuk investasi di sektor ini. Investor kelas menengah (bukan atas) dan investor ritel tidak begitu mengetahui industri media massa. Investor menengah-ritel, lebih memilih saham-saham perbankan.

Anda optimistis dengan saham VIVA?

Saya tetap menilai positif saham VIVA. Sebab, saham ini tidak berdiri sendiri. Artinya, bisa tertolong oleh kinerja grupnya (grup Bakrie). Jika kinerja saha grup Bakrie membaik, saham VIVA juga bisa mengikutinya. Karena itu, saya rekomendasikan untuk investasi jangka menengah di saham ini.

Bagaimana dengan trader yang maksa masuk?

Jika ingin trading jangka pendek, lebih baik menunggu listing, pada 16 November 2011. Secara historis, rally saham-saham sektor media masa terjadi dua pekan setelah listing. Setelah itu, cenderung mendatar menunggu kabar baru dari kinerja fundamentalnya.

Sebab, saham sektor media bukanlah saham dengan kategori capital incentive sehingga investornya pun terbatas. Biasanya, terjadi pergerakan harga jika emiten bersangkutan merger. Memang, jelang pemilu, banyak iklan yang masuk. Tapi, keuntungannya tetap sedikit.

Karena itu, target harga pun hanya untuk jangka menengah sambil melihat apa aksi korporasi berikutnya. Sebab, dalam jangka tersebut bisa saja, VIVA kembali membeli TV daerah seperti Makasar, Manado atau Surabaya.

Apakah itu sudah terjadi pada saham-saham sektor media massa yang lain?

Berkaca pada saham PT Surya Citra Media (SCMA.JK) yang mengalami pergerakan karena kabar akan merger dengan PT Indosiar Karya Mandiri (IDKM.JK). Karena itu, saham SCMA naik ke leve Rp6.000. Untuk jangka menengah (6 bulan) saya menargetkan Rp7.000. Sedangkan IDKM saya targetkan Rp2.000 dari level saat ini Rp1.550. saham IDKM sangat menarik.

Sedangkan MNCN, saya menargetkan Rp1.200 dari harga saat ini Rp1.090 per saham. Sedangkan untuk PT Mahaka Media (ABBA.JK). Saya tidak punya target harga untuk ABBA dari level harga saat ini Rp125 karena tidak likuid. Begitu juga dengan saham PT Tempo Inti Media (TMPO.JK) yang sahamnya masih di angka Rp105.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk saham-saham di sektor media massa?

Saya rekomendasikan buy saham-saham tersebut. Tapi, untuk masuk di saham-saham media masa, saya sarankan jangan terlalu banyak. Maksimal 20% dari portofolio yang dimiliki.

Komentar

Embed Widget
x