Find and Follow Us

Sabtu, 23 November 2019 | 03:19 WIB

Yield Obligasi AS Turun, IHSG Menanjak ke 4.000

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 30 Oktober 2011 | 15:00 WIB
Yield Obligasi AS Turun, IHSG Menanjak ke 4.000
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Level 3.800 sudah jadi support kuat IHSG. Jika tidak ada aral melintang, indeks bakal kembali tembus level 4.000 dalam waktu dekat seiring penurunan yield obligasi AS.

Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE)pada Jumat (28/10) ditutup menguat 16,956 poin (0,44%) ke level 3.829,960, dengan intraday tertinggi di 3.875,11 dan terendah di 3.811,39. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 ^JKLQ45yang naik 3,985 poin (0,58%) ke level 683,879.

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, IHSG berpeluang naik kembali dan menembus level 4.000i. Menurutnya, selain faktor eksternal, penurunan sebelumnya ke level 3.500-an, dipicu oleh BI rate yang dipertahankan di level 6,75%. Sekarang BI rate sudah diturunkan ke level 6,5% sehingga indeks kembali naik.

Di sisi lain, penguatan indeks, juga mendapat dukungan dari US treasury yield dengan tenor jangka panjang (30 tahun) saat ini yang mengalami penurunan. Yield US Tresury dengan tenor 10 tahun turun ke 2,125%. "Itu tandanya investor asing kembali berburu saham-saham di negara berkembang terutama saham-saham di sektor pertambangan," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.

Pasalnya, tren suku bunga jangka panjang di pasar global turun. Karena itu, harga komoditas kembali naik seperti minyak yang saat ini sudah kembali di atas US$90 per barel di level US$93-94 per barel. "Jadi, terjadi peralihan investor dari US Treasury ke saham-saham di emerging market maupun ke komoditas," ungkap Irwan.

Hanya saja, lanjutnya, sebelum mencapai 4.000, IHSG memiliki support di level 3.800 dan resistance 3.850-3.900 dalam sepekan ke depan. "Sebab, setelah melemah tajam dan kembali naik tejam, menandakan, indeks sudah dikontrol oleh pemain-pemain besar sehingga akan cepat menguat," kata Irwan menegaskan.

Apalagi, terkait penyelesaian krisis utang Eropa, pasar sudah sudah memiliki scenario tertentu. Karena itu, pasar tak lagi kuatir soal krisis utang Eropa. "Meskipun detil penyelesaiannya masih dinantikan," paparnya.

Semua itu, lanjut dia, terefleksi pada penguatan euro, terhadap dolar AS ke level US$1,4200-an per euro dari sebelumnya yang bahkan euro sempat melemah ke level US$1,2000-an per euro. "Penguatan euro, dipicu oleh tren suku bunga jangka panjang dalam dolar AS turun sehingga memicu carry trade ke emerging market termasuk Indonesia," ungkap Irwan.

Di atas semua itu, Irwan memperkirakan, Dow Jones berpluang kembali tembus 12.500 dan Hang Seng saat ini sudah kuat di level US$20.000.

Saham-saham pilihannya adalah PT Bumi Resources (BUMI.JK), PT Adaro Energy (ADRO.JK), PT Bukit Asam (PTBA.JK), PT Medco Energi (MEDC.JK), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS.JK), PT International Nickel Indonesia (INCO.JK), dan PT Aneka Tambang (ANTM.JK).

Selain tambang, lanjut Irwan, pasar juga bisa fokus pada saham-saham bank yang masih potensial naik seperti PT Bank Mandiri (BMRI.JK), PT Bank Central Asia (BBCA.JK), PT Bank Danamon (BDMN.JK), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK).

Irwan merekomendasikan buy and hold saham-saham tersebut hingga January effect 2012. Dia memperkirakan, saham-saham perbankan masih berpeluang naik hingga 10% hingga akhir tahun. "Sedangkan saham-saham sektor batu bara, punya peluang naik 10-15% hingga akhir tahun," imbuhnya.

Komentar

Embed Widget
x