Find and Follow Us

Jumat, 22 November 2019 | 02:47 WIB

Gema Goeyardi

Pelemahan IHSG Bukan 'Crash'

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 22 Agustus 2011 | 03:34 WIB
Pelemahan IHSG Bukan 'Crash'
Gema Goeyardi - inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Kejatuhan IHSG belakangan ini dinilai bukan crash. Sebab, indikator nilai tukar rupiah, harga minyak, likuiditas dan makro ekonomi dalam kondisi yang prima. Berbeda dengan 2008.

Presiden dan pendiri PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan, berdasarkan perbandingan crash 2008 dan 2011, bisa dimengerti bahwa terjadi dua perbedaan mendasar antara koreksi besar pada 2008 dan 2011. Menurutnya, kejadian kali ini bukanlah sebuah crash mengingat belum terlihatnya kesamaan dari empat indikator itu.

Karena itu, dia tetap menarget harga IHSG ^JKSE pada akhir 2011 diperkirakan menyentuh 4.500 dan 5.600 untuk 2012 dengan asumsi forward Price to Earnings Ratio (PER) 15 kali. "Earning Per Share (EPS) dari IHSG akan meningkat 25% pada 2011 dan 20% di 2012," katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (19/8), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup anjlok 178,246 poin (4,44%) ke level 3.842,748, dengan intraday terendah di 3.874,51 dan tertinggi di 4.019,80. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45^JKLQ45 yang turun 36,143 poin (5,06%) ke level 679,195. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah anjlok 4,4%, apakah IHSG dalam kategori crash?

Tak dapat dipungkiri, investor saham terdiri dari berbagai kalangan dengan berbeda latar belakang ekonomi, sosial, pendidikan dan juga tersegmentasi dari segi motivasi berinvestasi. Ada yang investor jangka panjang (reksadana ataupun saham), trader jangka pendek, bahkan trader harian.

Karena itu, kata crash ini akan dipandang dari sudut yang berbeda-beda oleh setiap investor atau trader. Misalnya, bisa saja dalam 2 pekan ke depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) jatuh 200 poin. Angka ini, tentunya bagi trader jangka pendek dianggap sebagai crash. Namun, bagi investor jangka panjang, kejatuhan 200 poin adalah berkah untuk membeli saham yang lebih murah dan mudah didapat dibandingkan saat bullish rally.

Kalau begitu, bagaimana pasar harus menyikapinya?

Time frameinvestasi sangat perlu dimengerti. Dengan mengerti kavling-kavling pembagian waktu, investor akan lebih tenang. Misalnya, dalam jangka waktu sekian minggu market akan jatuh pada harga X hingga waktu Y. Sedangkan untuk jangka menengah periode 2-3 bulan ke depan, market akan lebih stabil. Nah, maka hal ini akan memperjelas apakah yang disebut crash itu.

Apakah crash adalah relatif?

Tentu tidak. Walaupun sama-sama terpeleset minus 500 poin nantinya, tetapi ada dua perbedaan besar antara market crash 2008 dengan 2011.

Apa saja perbedaan tersebut?

Pada 2008, kurs rupiah $ melemah hingga 12.000 per dolar AS sedangkan pada 2011 mata uang RI ini stabil di level Rp8.500. Pada 2008 terjadi buble pada harga minyak hingga mencapai US$150 per barel$ sedangkan pada 2011 harga minyak stabil bahkan cenderung turun pada level area US$75-95 per barel.

Dari sisi likuiditas, pada 2008 terjadi redeem (penarikan dana) pada reksadana, deposito, dan sebagainya sehingga tampak jelas terjadi krisis likuiditas. Pada 2011 yang terjadi sebaliknya, reksadana dan deposito kian ramai dan tidak ada redeem baik oleh investor asing maupun lokal.

Ada indikator lain?

Lalu, dari sisi makro ekonomi, pada 2008 Indonesia terjebak pada inflasi double digit (11-12%). Gross Domestic Product (GDP) pun menurun dari 6,5% ke level 4%. Income per capita pun masih di bawah US$2.000 per tahun. Sementara itu, BI rate terus merangkak naik ke level 9-10%. Semua itu dimotori oleh bubble pada harga komoditas.

Sedangkan pada 2011, inflasi terkendali di level 5-6%, GDP justru pulih ke level 6,5% (year on year). Income per capita naik ke atas US$3.000 per tahun dan BI rate di level rendah 6,75%. Semua itu dimotori oleh inner power dari consumer confidence yang kuat dan bertumbuh agresif.

Kalau begitu apa kesimpulan Anda?

Berdasarkan perbandingan itu, sekarang pasar telah mengerti bahwa terjadi 2 perbedaan mendasar antara koreksi besar pada 2008 dan 2011. Bagi kami, kejadian kali ini bukanlah sebuah crash mengingat belum terlihatnya kesamaan dari 4 komponen itu.

Sejauh ini, sikap pasar sendiri bagaimana?

Berdasarkan survei terhadap 100 investor saham retail di Indonesia, 80 orang menyatakan bahwa mereka bingung dengan prospek pasar saham Indonesia ke depannya. Terutama saat melihat kondisi market global yang tak kunjung berhenti dirundung berita-berita negatif.

Mayoritas investor menyampaikan kepanikan mereka dan membutuhkan second opinion tentang arah market lebih dari satu periode ke depan. Yang menjadi pertanyaan teratas adalah apakah crash 2008 akan terulang dan mungkinkah IHSG kembali ke 3.300 atau bahkan di bawah 3.000.

Menurut Anda sendiri?

Saya berkesimpulan, IHSG beserta saham-saham berbasis konsumsi dan perbankan akan melambung lebih tinggi. Saya yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia dapat diperhitungkan dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia seperti Jepang, China, Singapore, Malaysia dan Thailand. Ini adalah kesempatan untuk investasi di saham-saham terbaik.

Kalau begitu, hingga level berapa potensi kenaikan IHSG?

Target harga IHSG pada akhir 2011 diperkirakan menyentuh 4.500 dan 5.600 untuk 2012 dengan asumsi forward Price to Earnings Ratio (PER) 15 kali. Earning Per Share (EPS) dari IHSG akan meningkat 25% pada 2011 dan 20% di 2012.

Ada tiga (3) alasan pendukung prestasi IHSG itu. Pertama, kekuatan besar dari daya konsumsi masyarakat, kedua, perputaran usaha yang semakin baik dari banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia dan ketiga, keuntungan dari mata uang rupiah yang kuat. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x