Find and Follow Us

Minggu, 19 Mei 2019 | 20:15 WIB

Stimulus Ekonomi AS Tak Jelas, Rupiah Sideways

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 15 Juli 2011 | 17:34 WIB
Stimulus Ekonomi AS Tak Jelas, Rupiah Sideways
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (15/7) ditutup menguat tipis 1 poin (0,01%) ke level 8.529/8.539 per dolar AS dari posisi kemarin 8.530/8.540.

Periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, pergerakan rupiah secara umum hari ini tidak bergerak banyak (sideways). Menurutnya, market cukup berhati-hati di tengah tidak jelasnya sentimen ekonomi global.

Hanya saja, lanjut Firman, investor cukup optimistis ekonomi Indonesia bisa mengarungi gejolak ekonomi global itu. "Karena itu, sepanjang perdagangan rupiah tidak bergerak banyak dengan level terkuat 8.525 dan 8.548 sebagai level terlemahnya," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (15/7).

Lebih jauh dia mengatakan, kemarin rupiah menguat signifikan seiring statemen gubernur The Fed Ben Bernanke yang mengisyaratkan bahwa The Fed akan bersiap-siap mengucurkan stimulus ekonomi atau Quantitative Easing (QE) ketiga. "Hanya saja, pernyataan Bernanke tadi malam, menafikan pernyataan sebelumnya itu," ungkapnya.

Bank sentral AS belum memiliki rencana untuk mengambil tindakan apapun untuk menopang pemulihan ekonomi. Pernyataan itu, menghilangkan ekspektasi adanya QE ketiga dalam waktu dekat. "Kondisi itu sempat memicu penguatan dolar AS," tandasnya.

Namun, lanjutnya, mata uang AS itu kembali melemah setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's seperti halnya dilakukan Moody's Investor Service tengah me-review untuk men-downgrade peringkat kredit AS jika batas atas utang AS tidak mencapai kata sepakat antara Washington dengan Capital Hills. "Walaupu tiap hari mereka bertemu, tapi belum ada sinyal perbaikan yang mengarah pada kata sepakat," tandasnya.

Sementara itu, ditegaskan Firman, dari Eropa nanti malam, akan dirilis hasil uji ketahanan perbankan Uni Eropa. Karena itu, pelaku pasar enggan mengambil posisi dalam jumlah besar. "Dirumorkan ada 51 bank di Erpoa yang tidak lulus stress test. Tapi, biasanya, perkiraan pasar selalu jauh berbeda dengan rilisnya. Sebab, pasar memiliki pertimbangan dan alasan yang berbeda," ucapnya.

Alhasil, dolar AS ditransaksikan variatif (mixed) terhadap mayoritas mata uang utama. Tapi, terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa), dolar AS melemah. "Dolar AS melemah ke level US$1,4150 dari posisi sebelumnya US$1,4142 per euro," imbuh Firman. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x