Kamis, 18 September 2014 | 14:40 WIB
Follow Us: Facebook twitter
INCO 'Bayangi' Konsolidasi Harga Nikel
Headline
inilah.com /Raya Abdullah
Oleh: Asteria & Ahmad Munjin
pasarmodal - Jumat, 28 Agustus 2009 | 15:59 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Koreksi saham PT International Nickel Indonesia (INCO) masih berlangsung hingga perdagangan akhir pekan ini. Salah satu pemicunya adalah harga nikel di pasar dunia yang masih mengalami konsolidasi.

Pada perdagangan Jumat (28/8) sesi siang, saham INCO terpantau stagnan di level Rp 4.450 per sahamnya. Kondisi ini terjadi setelah sehari sebelumnya, emiten logam ini ditutup anjlok Rp 350 (7,29%) ke posisi Rp 4.450.

Analis investasi PT GMT Aset Manajemen Nico Simatupang mengatakan, saat ini belum ada sentimen positif untuk INCO. Emiten logam masih cenderung konsolidasi, mengikuti pergerakan harga komoditas dunia yang melemah. Dini hari tadi, harga nikel ditutup melemah US$ 100 (0,51% ) menjadi US$ 19.500 per metrik ton. "Saya masih rekomendasikan hold untuk INCO," kata Nico kepada INILAH.COM.

Nico memaparkan, saat ini investor masih menunggu indikasi recovery perekonomian global, yang akan mendongkrak permintaan komoditas. Naiknya harga komoditas di pasar internasional, akan mendorong penguatan saham. Namun, ia menilai, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, meksipun Vale Inco Limited sebagai induk INCO kembali berproduksi.

"Belum ada sentimen yang dapat secara signifikan mendukung penguatan INCO," tegasnya.

INCO pada perdagangan kemarin menjadi kontributor terbesar penurunan bursa dengan anjlok 4,55 poin atau 0,19%. Dengan nilai transaksi INCO sebesar Rp 388,4 miliar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun akhirnya terpaksa berlabuh di teritori negatif, dengan ditutup turun 24,02 poin (1%) ke level 2.356,06.

Tekanan jual investor mulai muncul, paskatransaksi tutup sendiri PT UBS Securities Indonesia (AK) di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di level Rp 4.500 per unit. Harga ini lebih rendah 6,25% dari penutupan saham sehari sebelumnya di level Rp 4.800.

Menurut Trimegah Securities, secara teknikal, INCO memiliki support yang kuat di kisaran 4.125-4.325. Hal ini dilihat dari trend channel yang ada, setelah kemarin INCO ditutup di bawah level psikologis 4.500. Mereka pun merekomendasikan pembelian spekulatif di kisaran harga tersebut.

Namun, jika hari ini harga INCO bergerak naik, posisi harga yang sedang berada dalam trend channel akan turun. "Hal ini membuat kami cenderung memberikan rekomendasi sell on strength di kisaran 4.575-4.750," imbuhnya.

Seperti diketahui, Vale Inco Limited telah melepas 205.680.000 atau 2,07% saham INCO senilai Rp 925,56 miliar. Anak usaha Vale SA, salah satu produsen nikel terbesar di dunia itu, menjual INCO pada harga Rp 4.500 per unit. Penjualan ini merujuk pada kontrak karya yang berlangsung hingga 2005 yang mengharuskan pemegang saham publik memiliki 20% saham INCO.

Kontrak karya itu juga mengharuskan Vale memiliki saham INCO minimal 50%. Adapun saham produsen nikel terbesar di tanah air ini sebelumnya ditawarkan kepada pemodal strategis melalui proses book building. Vale Inco Limited adalah anak perusahaan Vale S.A (VALE), yakni pemegang saham utama INCO.

Setelah transaksi ini, komposisi pemegang saham utama perseroan menjadi 58,73% dimiliki Vale Inco Limited, 20,09% oleh Sumitomo Metal Mining Co. Ltd, dan 21,18% oleh pemegang saham publik dan lainnya.

Sementara itu, hingga semester pertama 2009, laporan keuangan INCO masih mencatatkan pelemahan. Penjualan perseroan paruh pertama ini merosot 66,26% menjadi US$ 276,36 juta YoY (dari US$ 819,16 juta). Adapun Vale Inco Ltd dan Sumitomo Metal Mining, masing-masing menyumbang US$ 224,5 juta dan US$ 51,85 juta terhadap penjualan konsolidasi perseroan.

Selain itu, laba usaha INCO juga merosot 92,16% menjadi US$ 32,35 juta YoY (dari US$ 412,65 juta). Laba bersih ikut terperosok menjadi US$ 34,58 juta atau turun 88,3% YoY (dari US$ 295,61 juta). Sedangkan posisi kas setara kas perseroan mencapai US$ 107,29 juta atau Rp 1,07 triliun.

Namun, negatifnya laporan keuangan INCO, disebabkan anjloknya harga komoditas nikel dunia, bukan akibat penurunan kinerja perseroan. Ini berarti di luar kendali manajemen. INCO pun diprediksi masih dapat menjaga produksi nikelnya seiring pulihnya ekonomi global.

Terkait hal ini, Merrill Lynch memberi rekomendasi positif terhadap emiten ini. Dalam jangka pendek, target harga diprediksi dapat menguat menuju level Rp 6.500. "Buy INCO dengan target harga di level Rp 6.500," tuturnya. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.