Kamis, 17 Mei 2012 | 04:07 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Garuda Dijual Rp650 di Pasar Gelap?
Headline
Foto: Istimewa
Oleh: Ahmad Munjin
pasarmodal - Rabu, 2 Februari 2011 | 09:44 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Saham perdana PT Garuda Indonesia dirumorkan dijual di level Rp650 per saham di pasar gelap. Sebab, banyak investor yang memesan melebihi kemampuan finansialnya. Benarkah?

Pengamat pasar modal Satrio Utomo membenarkan adanya rumor saham perdana dari Initial Public Offering (IPO) PT Garuda Indonesia dijual di level Rp650 di black market (pasar gelap).

Hal itu dipicu aksi investor yang memesan saham lebih banyak dari kemampuan finansialnya. Saat bookbuilding, banyak investor yang mendapatkan saham maskapai penerbangan ini terlalu banyak.

Karena itu menurutnya, sangat masuk akal jika di pasar gelap saham penerbangan ini dihargai Rp650. “Tapi, saya bermain di pasar yang terang-terang saja. Saya belum mendapat penawaran dari pasar gelap,” selorohnya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (1/2).

Seperti diberitakan, periode penawaran saham Garuda dimulai Rabu (2/2) ini, lalu 4 dan 7 Februari 2011, penjatahan pada 9 Februari 2011, distribusi dan pengembalian dana 10 Februari 2011 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Februari 2011. Total saham yang akan dilepas maskapai penerbangan pelat merah itu 6,27 miliar unit.

Alasan lain penjualan di pasar gelap, karena harga IPO di level Rp750 cukup mahal meskipun ada pihak yang mengcounter dengan mengatakan harga tersebut sangat murah. Dengan Price Earning Ratio (PER) 30 kali saja, Garuda dinilai bisa naik. “Namun, semua itu sangat tergantung kondisi market,” ujarnya.

Dalam hitungan Satrio, PER Garuda mencapai 16 kali yang lebih tinggi dari Thai Airways 10 kali dan Air Asia di kisaran12 kali. Sulit bagi Garuda berbuat banyak. “Banyak investor yang melepas posisi mereka di pasar gelap karena kebanyakan memesan sehingga terbebani pembayaran ke broker. Ada juga investor yang membatalkan pemesanannya,” ungkapnya.

Satrio mengaku tidak mau berspekulasi harga di pasar gelap Rp650. Tapi, market saat ini memang sedang terancam koreksi sehingga saham Garuda tidak bisa dikatakan murah. “Menjual di pasar gelap bisa dilakukan sebagai persiapan menghadapi kemungkinan yang terburuk di hari pertama di pasar sekunder 11 Februari saat listing,” paparnya.

Apakah saham Garuda akan langsung turun pada saat listing? Dia mengatakan, tidak ada yang bisa memastikan. Jika Dow Jones tembus resistance 12 ribu dan IHSG ke level 3.700 ada ruang bagi saham Garuda untuk bergerak naik. “Mari kita lihat bersama,” imbuhnya.

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan hal senada. Harga saham perdana Garuda di level Rp750 merupakan termahal di antara saham-saham airlines lainnya. Apalagi, saham ini adalah sektor jasa.

Ia membandingkan dengan saham-saham BUMN seperti PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Timah (TINS). Kedua emiten itu memiliki lahan produksi sehingga ada barang yang bisa dijual. Berbeda dengan Garuda yang hanya menjual jasa. “Apalagi, kebanyakan maskapai yang dimiliki Garuda adalah hasil sewa dan memiliki persoalan utang yang masih bengkak,” ucapnya.

Di sisi lain, Garuda merupakan airlines pertama yang IPO di Indonesia sehingga tidak populer. Sebab, bursa Indonesia lebih dikenal di sektor pertambangan. “Bisa jadi itu alasan investor yang berniat menjual saham Garuda di level Rp650 di pasar gelap meskipun membelinya di level Rp750,” ucapnya.

Ia menyarankan, sebaiknya hal itu tidak dilakukan investor. Sebab, aksi jual di pasar gelap itu memicu kerugian Rp100 per saham yang secara persentase sudah rugi 13,3%. “Pada intinya, investor jangan buru-buru tergoda untuk beli saham Garuda di pasar gelap,” ungkapnya.

Sebab, periode penawaran baru dilakukan pada 2, 4 dan 7 Februari 2011. Jadi menurutnya, penjualan saham Garuda di pasar gelap di level Rp650 baru sebatas rumor. “Bisa saja ada pihak tertentu yang menawarkan saham di level tersebut. Tapi, sahamnya belum ada. Sebab, satu hari sebelum listing, pembeli baru mendapatkan sahamnya,” paparnya.

Dalam situasi ini, investor harus berpikir lebih bijak dengan tidak membeli saham yang masa penawaran pun belum usai. Willy menengarai, perilaku seperti itu dilakukan pihak yang tidak mendapatkan penjatahan PT Krakatau Steel (KRAS). “Seharusnya, mereka sekarang jadi stand by buyer-nya Garuda. Jangan mengatakan Garuda akan turun padahal belum turun. Listingnya saja belum,” tukasnya.

Willy mengaku tidak merekomendasikan apa-apa untuk saham perdana Garuda. Ia memaparkan, investor boleh saja menjual di black market, tapi calon pembeli jangan membeli berdasarkan berita buta. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
Keputusan bertransaksi mengacu pada rekomendasi saham di INILAH.COM sepenuhnya merupakan tanggung jawab pembaca. Sementara analis maupun perusahaan pialang yang membuat rekomendasi saham juga tidak ikut bertanggung jawab.